Multiplikasi Tunas Pisang Kepok Kuning (Musa paradisiaca L.) terhadap Pemberian IAA dan BAP secara in vitro

Abstract

Pisang kepok kuning merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan. Meskipun permintaan pasar terus meningkat, produksi pisang masih menghadapi kendala, terutama karena keterbatasan bibit berkualitas dan serangan penyakit yang ditularkan melalui bibit konvensional. Kultur jaringan menjadi alternatif perbanyakan yang mampu menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, seragam, dan bebas penyakit. Keberhasilan kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT), terutama auksin (IAA) dan sitokinin (BAP). IAA berperan dalam pembentukan akar, sedangkan BAP berfungsi merangsang pembentukan tunas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh IAA, BAP, dan interaksi keduanya terhadap multiplikasi tunas pisang kepok kuning secara in vitro. IAA merupakan hormon auksin yang berperan dalam pembelahan, pemanjangan sel, dan pembentukan akar. Sebaliknya, BAP sebagai sitokinin berfungsi merangsang pembelahan sel, pembentukan tunas, dan perkembangan daun. Rasio antara auksin dan sitokinin menentukan arah morfogenesis tanaman, sehingga kombinasi kedua hormon tersebut sangat menentukan keberhasilan multiplikasi tunas. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi IAA (0, 0.5, 1 dan 1.5 ppm) serta konsentrasi BAP (0, 2.5, 5, dan 7.5 ppm). Terdapat 16 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali. Media yang digunakan adalah media MS yang diperkaya IAA dan BAP sesuai perlakuan. Parameter yang diamati meliputi waktu muncul tunas, waktu muncul akar, jumlah tunas, jumlah akar, jumlah daun, dan persentase eksplan bertunas. Data dianalisis menggunakan ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5% apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi IAA dan BAP hanya berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Faktor tunggal IAA berpengaruh nyata terhadap waktu muncul akar, jumlah akar, dan jumlah tunas, sedangkan faktor tunggal BAP berpengaruh nyata terhadap waktu muncul tunas dan jumlah daun serta sangat nyata terhadap jumlah tunas. Perlakuan terbaik untuk jumlah tunas diperoleh pada kombinasi IAA 1.5 ppm + BAP 7.5 ppm (I4B4) dengan rata-rata 8 tunas. Kombinasi tersebut menunjukkan keseimbangan hormon yang mampu mengoptimalkan pembelahan sel dan pembentukan tunas. Untuk pertumbuhan akar, perlakuan terbaik diperoleh pada IAA 0.5 ppm dengan rata-rata 9.83 akar, sedangkan akar muncul paling cepat pada perlakuan tanpa penambahan IAA (0 ppm). Hal ini diduga karena eksplan masih memiliki hormon endogen yang cukup untuk menginisiasi pembentukan akar. Pada parameter kedinian tunas dan jumlah daun, perlakuan terbaik diperoleh pada BAP 5 ppm, yang menghasilkan tunas muncul paling cepat (8.83 HST) dan rata-rata jumlah daun terbanyak (7.08 helai). Persentase eksplan bertunas tertinggi mencapai 83.33%, menunjukkan bahwa sebagian besar eksplan mampu beregenerasi dengan baik pada beberapa kombinasi perlakuan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan multiplikasi tunas dipengaruhi oleh keseimbangan antara hormon auksin dan sitokinin. Konsentrasi hormon yang terlalu tinggi tidak selalu memberikan hasil terbaik karena dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon endogen dan menghambat pertumbuhan.

Description

Validasi dan Finalisasi Repositori File 04 Agustus 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By