Transformasi Identitas Sosial Geng Hourex's Solidarity: Dari Kekerasan Jalanan Menuju Aksi Sosial

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Abstract

Penelitian ini membahas transformasi identitas sosial Hourex’s Solidarity di Kota Surakarta yang awalnya dikenal sebagai geng remaja dengan budaya kekerasan jalanan pada era 1990-an, kemudian berkembang menjadi komunitas sosial yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Kemunculan Hourex’s dilatarbelakangi oleh kebutuhan remaja untuk memperoleh pengakuan sosial, solidaritas kelompok, dan identitas kolektif di tengah dinamika sosial perkotaan. Dalam perkembangannya, kelompok ini memiliki jaringan anggota yang luas, atribut khas, wilayah tongkrongan, serta budaya solidaritas yang kuat. Solidaritas tersebut pada masa awal diwujudkan melalui loyalitas tanpa batas, konflik antargeng, vandalisme, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja sebagai bentuk pembelaan harga diri kelompok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup dan proses refleksi para anggota Hourex’s Solidarity. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan delapan orang pendiri Hourex’s sebagai informan utama. Analisis penelitian menggunakan teori perubahan sosial Piotr Sztompka yang menekankan hubungan antara struktur sosial, agen, operasi sosial, dan tindakan sosial dalam proses perubahan masyarakat. Melalui teori tersebut, perubahan Hourex’s dipahami sebagai hasil dari kesadaran internal anggota yang berkembang secara bertahap melalui pengalaman hidup, pendidikan, pekerjaan, serta interaksi sosial yang lebih luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Hourex’s Solidarity tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses refleksi kolektif yang berlangsung dalam jangka panjang. Pengalaman kehilangan anggota, keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat, serta bertambahnya usia dan kedewasaan mendorong para anggota untuk menilai kembali tindakan kekerasan yang pernah mereka lakukan. Solidaritas yang sebelumnya diwujudkan dalam bentuk konflik dan balas dendam kemudian berubah menjadi solidaritas sosial yang lebih konstruktif. Perubahan tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial seperti kerja bakti, pembagian takjil, bantuan kegiatan warga, pengamanan acara masyarakat, dan keterlibatan dalam aktivitas sosial lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan sosial dalam kelompok informal dapat tumbuh dari kesadaran internal para anggotanya tanpa dominasi tekanan eksternal.

Description

Finalisasi Maya_03 Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By