Pengembangan Soal Numerasi Model Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk jenjang SMP dengan Tema Gizi Seimbang
Abstract
Numerasi merupakan salah satu kecakapan yang harus dimiliki peserta
didik sebagai salah satu prasyarat untuk mewujudkan kecakapan hidup abad ke-21
(Pusmenjar, 2020). Numerasi adalah kemampuan dalam menggunakan
matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Namun,
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Klarita & Syafi’ah (2022)
diungkapkan bahwa kemampuan numerasi siswa masih termasuk kategori rendah.
Hal ini selaras dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada salah satu
guru matematika di tempat penelitian, dimana salah satu masalah yang dihadapi
sekolah adalah rendahnya nilai AKM numerasi siswa. Salah satu penyebabnya
karena siswa memang tidak tertarik untuk mengerjakan soal matematika.
Konteks merupakan salah satu komponen penting dalam soal AKM
numerasi. Penggunaan tema atau konteks khusus dimungkinkan dapat menambah
minat siswa untuk mengerjakan soal numerasi. Hal ini didasarkan pada pendapat
Widjaja (dalam Charmila et al., 2016) yang mengungkapkan bahwa penggunaan
konteks dalam soal matematika dinilai sangat penting karena mampu memberikan
motivasi kepada siswa untuk mempelajari matematika. Sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Kadir & Masi (2013) bahwa soal dengan menggunakan
konteks dapat menantang pola pikir matematis siswa. Oleh karena itu,
penggunaan tema atau konteks khusus dinilai perlu dilakukan, guna
memaksimalkan minat siswa untuk mengerjakan soal numerasi. Selain
memperhatikan pentingnya penggunaan konteks, pemilihan topik konteks juga
perlu dilakukan. Tema gizi seimbang merupakan tema yang digunakan dalam
pengembangan soal karena tema ini dekat dengan keseharian peserta didik dan
merupakan variasi baru dalam konteks soal numerasi yang bisa menambah
wawasan peserta didik terkait aplikasi matematika di bidang kesehatan, tepatnya pada lingkup gizi seimbang. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini
bertujuan untuk memaparkan proses dan hasil pengembangan soal numerasi
model AKM untuk jenjang SMP dengan tema gizi seimbang.
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
modifikasi dari model pengembangan Four-D (4-D). Modifikasi tersebut yakni
dengan melaksanakan pengembangan hanya dalam tiga tahapan, yakni tahap
pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop). Hasil
modifikasi tahap pengembangan 4-D tersebut selanjutnya disebut dengan tahap
pengembangan 3-D (Amalia et al., 2019). Pada peneletian ini, tahap
pengembangan bertujuan untuk menghasilkan soal numerasi model AKM dengan
tema gizi seimbang yang valid dan reliabel. Tempat penelitian yang dipilih adalah
SMP Negeri 1 Arjasa dengan subjek penelitian adalah 36 siswa kelas VIII.
Rancangan awal soal numerasi yang dihasilkan pada akhir tahap perancangan,
selanjutnya melalui dua kegiatan dasar pada tahap pengembangan. Kegiatan
pertama adalah penilaian para ahli untuk mengetahui validitas soal berdasarkan
lembar validasi yang diberikan. Kegiatan yang kedua adalah uji coba lapangan.
Uji coba lapangan diawali dengan uji keterbacaan soal. Uji keterbacaan ini
dilakukan untuk menyempurnakan kembali soal yang telah dirancang, tepatnya
pada segi keterbacaannya. Pada tahap ini akan diketahui apakah soal bisa terbaca
dengan baik atau belum berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang tercantum pada
angket keterbacaan soal. Selanjutnya soal akan diujicobakan kepada 30 subjek
penelitian untuk mengtahui reliabilitas soal, validitas, tingkat kesukaran, dan daya
pembeda setiap butir soal. Setelah mengerjakan soal siswa diminta untuk
mengerjakan agket respon siswa untuk mengetahui kepraktisan soal.
Penelitian ini menghasilkan 2 paket latihan soal, masing-masing paket
latihan soal terdiri dari enam soal dengan tujuh pertanyaan. Paket latihan soal 1
terdiri dari soal dengan konten bilangan serta geometri dan pengukuran.
Sedangkan paket latihan soal 2 terdiri dari soal dengan konten aljabar serta data
dan ketidakpastian. Soal tersebut telah memenuhi kriteria valid, praktis dan
reliabel serta memenuhi tingkat kesukaran, dan daya pembeda sesuai kriteria yang
ditetapkan, sehingga soal bisa disebut sebagai produk final.