Analisis Ketebalan Kaca terhadap Tingkat Kekeringan Pisang Raja Menggunakan Solar Dryer sebagai Rancangan Bahan Ajar
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketebalan kaca penutup (3 mm, 5
mm, dan 8 mm) yang paling optimal terhadap suhu ruang pengering serta tingkat
kekeringan akhir pisang raja menggunakan alat solar dryer, sekaligus menyusun
hasil temuan tersebut menjadi sebuah rancangan bahan ajar fisika kontekstual.
Berlatar belakang dari keterbatasan pengeringan tradisional sale pisang di
Indonesia yang rentan kontaminasi dan bergantung penuh pada cuaca, teknologi
solar dryer berbasis efek rumah kaca diterapkan sebagai solusi pengeringan yang
lebih cepat, higienis, dan ramah lingkungan. Penelitian kualitatif ini dilaksanakan
di lingkungan Universitas Jember menggunakan metode eksperimen menggunakan
Completely Randomized Design. Sampel yang digunakan berjulmah 24 buah pisang
raja dari Kabupaten Lumajang yang dibagi rata ke dalam empat kelompok
perlakuan, yaitu tiga kelompok eksperimen solar dryer (3 mm, 5 mm, dan 8 mm)
serta satu kelompok kontrol berupa metode pengeringan konvensional terbuka.
Proses pengeringan dilakukan serempak selama 3 hari dengan durasi operasional 6
jam per hari pukul 09.00-15.00 dengan memanfaatkan parameter alat ukur digital
terstandar untuk memantau fluktuasi termal lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi ketebalan kaca 3 mm, 5 mm, dan
8 mm memberikan pengaruh terhadap suhu ruang pengering dan tingkat kekeringan
pisang raja. Selama tiga hari pengeringan, seluruh perlakuan solar dryer
menghasilkan tingkat kekeringan yang lebih baik dibandingkan metode
konvensional. Kaca 8 mm mampu menghasilkan suhu rata-rata tertinggi sebesar
47,00°C serta tingkat kekeringan tertinggi sebesar 3,98%, sedangkan kaca 3 mm
menghasilkan sebesar 3,67% dan kaca 5 mm sebesar 3,36%. Penelitian juga
menunjukkan bahwa hubungan antara ketebalan kaca dan tingkat kekeringan tidak
bersifat linear karena dipengaruhi oleh kemampuan transmisi dan retensi panas dari
masing-masing ketebalan kaca. Hasil penelitian kemudian dikembangkan menjadi
bahan ajar fisika kontekstual berbentuk e-modul interaktif menggunakan aplikasi
Book Creator. Bahan ajar memanfaatkan data nyata hasil eksperimen, seperti
perubahan suhu, kadar air, dan tingkat kekeringan, kemudian diintegrasikan dengan
konsep suhu, kalor, konduksi, konveksi, dan radiasi. Penyusunannya menggunakan
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sehingga peserta didik
menganalisis fenomena pengeringan pisang sebagai penerapan konsep fisika dalam
kehidupan sehari-hari.
Variasi ketebalan kaca berpengaruh nyata terhadap performa solar dryer,
namun pengaruhnya tidak linear. Berdasarkan kesimpulan skripsi, ketebalan kaca
8 mm dinyatakan sebagai variasi yang paling optimal dalam penelitian ini dengan
tingkat kekeringan rata-rata 3,98%, diikuti oleh kaca 3 mm sebesar 3,67%, kaca 5
mm sebesar 3,36%, dan metode konvensional sebesar 3,20%. Hal tersebut
menunjukkan bahwa kaca 8 mm merupakan ketebalan yang paling optimal dalam
meningkatkan proses pengeringan pisang raja karena mampu mempretahankan
panas di dalam ruang pengering. Dari hasil penelitian tersebut dihasilkan rancangan
bahan ajar yang disusun dalam bentuk e-modul interaktif berbasis Book Creator
yang mengintegrasikan hasil eksperimen dengan materi suhu dan kalor. Melalui
penyajian studi kasus berbasis masalah (Problem Based Learning), bahan ajar ini
mampu memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, melatih kemampuan
berpikir kritis, dan meningkatkan pemahaman konsep ilmiah peserta didik.
Description
Validasi file repositori 30 Juli 2026_Firli
