Strategi Coping Mahasiswa Universitas Jember Pelaku Self-Harm dalam Mempertahankan Keberfungsian Sosial
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Mahasiswa sering kali menghadapi tekanan berat selama masa perkulihan,
baik yang bersumber dari masalah pribadi, konflik interpersonal, maupun
tuntutan di lingkungan kampus. Ketika tekanan psikologis tersebut menumpuk
dan individu tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang adaptif, sebagian
mahasiswa memilih melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm)
sebagai mekanisme pelepasan atau pelampiasan rasa sakit batin. Perilaku ini
menimbulkan hambatan fisik maupun psikis yang berpotensi mengganggu peran
sosial individu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi,
mendeskripsikan, dan menganalisis strategi coping yang digunakan oleh
mahasiswa Universitas Jember pelaku self-harm dalam mempertahankan
keberfungsian sosial di kehidupan sehari-hari mereka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
studi kasus. Penentuan lokasi penelitian dilakukan di Universitas Jember.
Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam (in-deth
interview) dengan empat informan kunci (mahasiswa Universitas Jember dengan
riwayat self-harm) serta informan tambahan (teman dekat dan rekan kerja). Data
yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif untuk memahami faktor
pemicu, bentuk perilaku, kondisi keberfungsian sosial, serta efektivitas
mekanisme adaptasi yang diterapkan oleh informan.
Temuan lapangan menunjukkan bahwa faktor pemicu utama perilaku selfharm pada mahasiswa berasal dari dua tekanan besar: tekanan psikologis akibat
konflik hubungan interpersonal (masalah dengan keluarga, pertemanan, dan
asmara) serta tekanan akademik berupa tuntutan standar nilai atau kelulusan
yang tinggi. Adapun bentuk self-harm yang dilakukan terbagi menjadi dua
kategori, yaitu tindakan langsung (direct self-harm) seperti menyayat kulit
(cutting) dan memukul benda keras; serta tindakan tidak langsung (indirect self
harm) seperti mengonsumsi obat-obatan secara berlebihan, meminum cairan
kimia berupa parfum, merokok, dan mengonsumsi minuman keras secara
berlebihan.
Meskipun berada di bawah tekanan psikologis, informan tetap berupaya
keras untuk mempertahankan keberfungsian sosial mereka. Di lingkungan
keluarga, informan cenderung menggunakan pola adaptasi tertutup, di mana
mereka memanipulasi penampilan (seperti menggunakan pakaian lengan
panjang) untuk menyembunyikan bekas luka. Di ranah akademik, informan tetap
menunjukkan produktivitas tinggi karena didorong oleh karakteristik pribadi
yang ambisius serta kesadaran akan tanggung jawab masa depan.
Strategi coping yang diterapkan informan terbukti dominan pada
pengelolaan emosi (emotion-focused coping). Bentuk strategi yang digunakan
meliputi: pendekatan spiritual (meningkatkan ketaatan ibadah), pemenuhan
kebutuhan diri sendiri melalui aktivitas mandiri yang menyenangkan
(mendengarkan musik, bermain game, berkendara motor sendirian untuk
refleksi, dan berolahraga), serta interaksi dan dukungan sosial (pencarian
dukungan teman atau pasangan termasuk validasi emosional dan afeksi, serta
upaya menyibukkan diri dengan bekerja agar tetap produktif). Penerapan strategi
coping adaptif ini terbukti memberikan dampak positif dalam membantu
mahasiswa mengontrol emosi negatif, meredakan kecemasan, mencegah
penarikan diri dari lingkungan, serta memastikan peran, hak, dan kewajiban
sosial mereka sebagai mahasiswa tetap berjalan seimbang.
Description
Validasi file repositori 30 Juli 2026_Firli
