Hubungan Budaya Keselamatan Pasien dan Compassion Competence dengan Insiden Keselamatan Pasien Pada Perawat Rawat Inap RSUD Waluyo Jati
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
Abstract
Insiden yang terjadi di rumah sakit dapat menyebabkan kecacatan mortalitas/kematian pada pasien. Pada tahun 2024, berdasarkan data laporan rumah sakit, terjadi sebanyak 33 kasus IKP (Insiden Keselamatan Pasien) di ruang rawat inap RSUD Waluyo Jati yang mencakup knc (Kejadian Nyaris Cedera), KTC (Kejadian Tidak Cedera), dan KTD (Kejadian Tidak Diinginkan). Perawat merupakan tenaga kesehatan yang tidak terlepas dari unit rawat inap dalam menjalankan proses kerjanya. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, rumah sakit tersebut belum melaksanakan survei terkait budaya keselamatan pasien dalam satu tahun terakhir. Padahal, budaya keselamatan pasien akan dapat memengaruhi bagaimana penerapan keselamatan pasien oleh tenaga kesehatan, salah satunya perawat, dan komponen budaya keselamatan pasien yang kurang berkaitan dengan terjadinya IKP di rumah sakit. Compassion competence yang dimiliki perawat akan dapat digunakan untuk meningkatkan komponen budaya keselamatan pasien yang kurang serta meminimalkan kelalaian saat bekerja. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini penting dilakukan pada untuk mengetahui hubungan budaya keselamatan pasien dan compassion competence dengan terjadinya IKP pada perawat rawat inap RSUD Waluyo Jati.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyo Jati pada bulan September 2025 hingga April 2026. Variabel dalam penelitian ini meliputi karakteristik individu (usia, jenis kelamin, dan masa kerja), pernah atau tidaknya perawat melakukan IKP, budaya keselamatan pasien, dan compassion competence perawat rawat inap. Perawat yang dianalisis mencakup perwakilan perawat dari delapan ruangan unit rawat inap, yaitu ruangan tengger, mawar kuning, mawar ungu, mawar putih, mawar merah, asoka, cempaka, dan lotus. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diukur menggunakan kuesioner IKP, HSOPSC (Hospital Safety On Patient Safety Culture), dan CCS (Compassion Competence Scale). Kemudian, data dianalisis melalui analisis univariat untuk distribusi frekuensi dan persentase, serta bivariat dengan spearman rank untuk mengetahui hubungan antar variabel dependen dan independen.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik individu perawat rawat inap didominasi oleh usia >30 tahun, jenis kelamin perempuan, dan masa kerja 1 hingga 5 tahun pada unit dan rumah sakit. Pada aspek budaya keselamatan pasien, sebagian besar perawat (47,1%) memiliki persepsi yang tergolong baik terhadap budaya keselamatan pasien, tetapi masih terdapat perawat dengan kategori buruk dan tidak baik/tidak buruk dan buruk. Selain itu, dimensi di dalamnya dapat ditingkatkan kembali agar dapat meningkatkan keselamatan pasien, meliputi dimensi reporting patient safety events, response to error, dan staffing and work pace. Pada compassion competence¸ 61 dari 68 perawat (89,71%) memiliki tingkat compassion competence yang baik dan ketiga dimensi aspek ini sebagian besar dikategorikan baik. Berdasarkan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara variabel, karakteristik individu usia tidak memiliki hubungan signifikan dengan terjadinya IKP di ruang rawat inap, begitu pun dengan jenis kelamin dan masa kerja di rumah sakit yang tidak memiliki hubungan dengan terjadinya IKP di ruang rawat inap. Berbeda dengan hasil tersebut, pada aspek budaya keselamatan pasien terdapat hubungan signifikan yang lemah dengan terjadinya IKP di ruang rawat inap. Sedangkan pada aspek compassion competence tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan terjadinya IKP di ruang rawat inap. Saran yang diberikan adalah penerapan program good catch reward, lembar jejak refleksi diri harian, penentuan tenaga kerja berdasarkan beban kerja dengan WISN, dan garden of improvement visual model. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk menganalisis dan mengkaji hubungan compassion competence dengan budaya keselamatan pasien dan mengkaji apakah moral courage sebagai variabel intervening akan menjelaskan persepsi budaya keselamatan pasien dengan pelaporan insiden keselamatan pasien.
Description
Finalisasi Juli 2026 hasyim
