Hubungan Konsumsi Ultra Processed Foods (UPF) dan Screen Time dengan Kejadian Kelebihan Gizi (Overweight dan Obesitas) pada Remaja (Studi di MAN 2 Jember)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstract

Remaja rentan mengadopsi gaya hidup tidak sehat sehingga berisiko mengalami kelebihan gizi, yaitu overweight dan obesitas, yang berdampak pada kesehatan serta proses belajar. Prevalensi kelebihan gizi pada remaja mengalami peningkatan setiap tahunnya dari tingkat global hingga kabupaten. Kabupaten Jember menempati urutan kedua sewilayah tapal kuda, dengan Kecamatan Patrang sebagai wilayah tertinggi (15,9%) dan MAN 2 Jember merupakan sekolah dengan prevalensi tertinggi, yaitu 46% dari 396 remaja. Faktor penyebab kelebihan gizi bersifat multifaktorial, terutama dipengaruhi oleh perubahan sistem pangan dan peningkatan teknologi. Hasil penelitian Briawan et al. (2024) menunjukkan bahwa 67,2% remaja di Jawa Timur mengonsumsi Ultra Processed Foods (UPF), yaitu produk olahan yang padat energi, tinggi lemak, dan pemanis buatan, namun rendah serat sehingga menyebabkan asupan energi berlebih, gangguan regulasi lapar, dan resistensi insulin yang mendorong peningkatan lemak tubuh. Selain itu, hasil survei APJII tahun 2021-2022 juga menunjukkan bahwa 99,2% pengguna internet berasal dari remaja. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Tiefyanie & Purwaningtyas (2025) bahwa 51,4% remaja memiliki durasi screen time yang tinggi, yaitu lebih dari 2 jam per hari. Aktivitas screen time termasuk dalam gaya hidup sedentari yang berkaitan dengan rendahnya aktivitas fisik dan pengeluaran energi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi UPF dan screen time dengan kejadian kelebihan gizi pada remaja di MAN 2 Jember. Metode penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian terdiri dari siswa/i aktif kelas X dan XI MAN 2 Jember berjumlah 616 dengan sampel sebanyak 93 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Kriteria inklusinya meliputi hadir saat penelitian, bersedia menjadi responden, dan berusia 16-18 tahun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2026. Data kelebihan gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri berupa berat badan menggunakan timbangan injak digital dan tinggi badan menggunakan microtoise. Sedangkan, data konsumsi UPF dikumpulkan melalui wawancara SQ-FFQ periode tiga bulan terakhir untuk menilai jenis, jumlah, dan frekuensi konsumsi. Data durasi screen time diperoleh melalui wawancara QueST periode seminggu terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square atau Fisher’s Exact Test dengan CI 95% dan α = 0,05. Laik etik penelitian dari FKM UNEJ dengan No.625/KEPK/FKM-UNEJ/IV/2026. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 16 tahun (54,8%) dan berjenis kelamin perempuan (37,6%). Sebagian besar responden mengalami kelebihan gizi (51,6%) dengan prevalensi tertinggi pada usia 16 tahun (31,2%) dan remaja perempuan (30,1%). Jenis UPF yang paling banyak dikonsumsi responden adalah susu dan produk olahannya (100%). Jumlah kontribusi asupan energi kelompok UPF sebesar 32,3% dari total energi harian. Frekuensi konsumsi UPF yang paling dominan adalah 1-3x/minggu (47,0%). UPF merupakan produk hasil olahan industri dari berbagai bahan olahan dan zat aditif dengan komposisi gizi yang tidak seimbang sehingga mengganggu keseimbangan energi dan metabolisme tubuh serta meningkatkan risiko kelebihan gizi. UPF juga memiliki palatabilitas yang tinggi sehingga mendorong konsumsi berlebihan tanpa disadari. Selain itu, rata-rata durasi screen time responden mencapai 3 jam 28 menit per hari dan meningkat pada akhir pekan yang didominasi oleh penggunaan media sosial. Screen time termasuk gaya hidup sedentari berupa kegiatan menetap di depan layar yang dapat menurunkan aktivitas fisik sehingga pengeluaran energi menjadi rendah atau tidak optimal yang memicu penumpukan lemak berlebih. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah konsumsi UPF, frekuensi konsumsi UPF, dan screen time berhubungan signifikan dengan kejadian kelebihan gizi pada remaja di MAN 2 Jember (p<0,05). Sedangkan, jenis konsumsi UPF tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, remaja disarankan untuk membatasi konsumsi UPF dan mengurangi durasi screen time. MAN 2 Jember diharapkan dapat meningkatkan poster edukatif di lingkungan sekolah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis asupan energi dan zat gizi makro yang berasal dari kelompok UPF.

Description

Finalisasi oleh Agus 23 Juli 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By