Hierarki Kebutuhan dalam Novel Moga Bunda Disayang Allah Karya Tere Liye: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Karya sastra merefleksikan perkembangan zaman dan dinamika kehidupan psikologi masyarakat. Karya Tere Liye memiliki keragaman genre, mencakup sastra anak dan keluarga, roman, filsafat, aksi, kumpulan puisi dan cerpen, fiksi sains, fantasi, sejarah, dan sebagainya. Setiap karya yang diciptakan oleh Tere Liye senantiasa mengandung nilai-nilai moral. Selain itu, Tere Liye juga menghadirkan aspek psikologis tokoh melalui penekanan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan humanistik. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, khususnya dalam menelusuri berbagai jenis kebutuhan psikologis yang ditampilkan dalam karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterkaitan antarunsur struktural dan kebutuhan-kebutuhan psikologi humanistik tokoh dalam novel Moga Bunda Disayang Allah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Objek material yang digunakan adalah novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye (2023), sedangkan objek formal berupa keterkaitan antarunsur struktural dan kebutuhankebutuhan psikologi humanistik tokoh, yang dianalisis berdasarkan teori struktural dan teori psikologi humanistik Abraham Maslow. Satuan analisis penelitian ini berupa kalimat, paragraf, atau wacana yang mengandung unsur-unsur struktural dan aspek psikologi humanistik. Hasil analisis struktural menunjukkan keterkaitan antarunsur struktural pada novel Moga Bunda Disayang Allah, yaitu tema, penokohan dan perwatakan, konflik, dan latar. Tema mayor “keterbatasan bukan pengahalang semangat untuk mengenal dunia beserta isinya” merujuk pada Melati (berwatak datar) sebagai tokoh utama, sedangkan tema minor “kesedihan berakhir dengan haru bahagia”, “semua lelah tidak akan tersia-sia”, “peran ayah yang tetap penuh kasih di tengah kesibukan” merujuk pada tokoh bawahan yaitu Bunda (berwatak datar), Karang (berwatak bulat), dan Tuan HK (berwatak bulat). Watak para tokoh memicu perbedaan yang mengahsilkan pertentangan, sehingga memicu konflik fisik dan konflik batin. Konflik fisik manusia dengan manusia dialami oleh Melati dengan Karang, dan konflik manusia dan alam terjadi pada tokoh Karang. Konflik batin berupa ide dengan ide dan seseorang dengan kata hatinya dialami oleh tokoh Bunda. Konflik dan watak para tokoh juga dipengaruhi oleh latar waktu yang saling berhubungan denagan peristiwa tiga tahun yang lalu, latar tempat yang digambarkan yaitu rumah mewah di puncak bukit dan kota kecil dekat pesisir, dengan latar sosial seperti festival kembang api pada perayaan malam tahun baru. Hasil analisis hierarki kebutuhan tokoh menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki tingkat kebutuhan dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Empat tokoh (Melati, Bunda, Tuan HK, dan Karang) dalam novel Moga Bunda Disayang Allah memiliki tingkat pemenuhan kebutuhan yang sempurna. Keempat tokoh tersebut memenuhi hierarki kebutuhan mereka dimuali dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Setiap tokoh memiliki dominasi kebutuhan yang berbeda dengan tokoh lainnya, dikarenakan masing-masing tokoh memiliki tingkat pemenuhan kebutuhan yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan kewajaran, mengingat setiap manusia memiliki pola asuh, pola pikir, kehidupan, perasaan, dan hobi yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Kebutuhan yang dominan terhadap diri Melati pada kebutuhan aktualisasi diri, Bunda dan Tuan HK dominan pada kebutuhan cinta dan rasa memiliki, dan Karang pada kebutuhan rasa harga diri.

Description

Reupload file repositori 3 februari 2026_PKL Fani/Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By