Perilaku Penggunaan Susuk pada Kuli Panggul sebagai Upaya Pencegahan Keluhan Kelelahan Kerja di Pasar Porong Sidoarjo
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Kelelahan kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan kerja yang masih banyak ditemukan pada pekerja dengan aktivitas fisik tinggi. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya energi, kemampuan fisik, dan produktivitas akibat aktivitas kerja yang dilakukan secara terus-menerus tanpa waktu pemulihan yang memadai. Kelelahan kerja berkontribusi lebih dari 60% terhadap kejadian kecelakaan kerja dan menjadi masalah yang memerlukan perhatian khusus, terutama pada pekerja sektor informal yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan kerja. Salah satu kelompok yang rentan mengalami kelelahan kerja adalah kuli panggul. Pasar Porong Sidoarjo memiliki 36 pekerja kuli panggul yang bekerja dengan beban fisik tinggi melalui aktivitas mengangkat dan memindahkan barang secara berulang. Tingginya tuntutan fisik menyebabkan pekerja sering mengalami nyeri pada punggung, bahu, pinggang, lengan, dan kaki, disertai kram otot serta tubuh terasa lemas setelah bekerja. Pelaksanaan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) di wilayah tersebut belum menjangkau pekerja kuli panggul sehingga sebagian pekerja memilih alternatif pengobatan tradisional berupa penggunaan susuk untuk mencegah keluhan kelelahan kerja. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena penggunaan susuk pada kuli panggul berbeda dengan fungsi susuk pada umumnya, yaitu digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh saat bekerja.
Penelitian ini menggunakan mix method yang menggabungkan dua metode yaitu kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi. Metode kuantitatif dilakukan untuk pengukuran tingkat kelelahan menggunakan kuesioner Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Informan dipilih menggunakan teknik purposive yang terdiri atas satu informan kunci, lima informan utama, dan lima informan tambahan. Penelitian berfokus pada empat faktor pembentuk perilaku menurut teori WHO, yaitu thought and feeling yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, sikap, dan nilai; personal references yang mencakup keluarga dan teman atau sesama pekerja; resources yang terdiri atas tenaga, waktu, biaya, serta sarana dan prasarana; serta culture yang berkaitan dengan budaya yang berkembang di lingkungan pekerja kuli panggul. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dokumentasi. Kredibilitas data dijaga menggunakan triangulasi sumber dengan melibatkan informan tambahan dan informan kunci. Analisis data dilakukan menggunakan thematic content analysis berbantuan perangkat lunak NVivo 12 melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor thought and feeling berperan penting dalam membentuk perilaku penggunaan susuk pada pekerja kuli panggul. Pengetahuan pekerja mengenai susuk diperoleh dari pengalaman pribadi, keluarga, dan lingkungan kerja. Pekerja memahami bahwa susuk yang mereka gunakan bertujuan untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mengurangi kelelahan saat bekerja. Pengetahuan tersebut berkembang menjadi kepercayaan bahwa susuk mampu membantu mereka bekerja lebih lama, mengurangi rasa nyeri, dan meningkatkan stamina. Kepercayaan ini diperkuat oleh manfaat yang dirasakan setelah pemasangan susuk sehingga membentuk sikap yang cenderung mendukung penggunaannya. Selain itu, penggunaan susuk juga memiliki nilai tersendiri bagi pekerja karena dianggap sebagai sarana untuk mempertahankan kemampuan bekerja dan memenuhi tanggung jawab ekonomi terhadap keluarga.
Faktor personal references, keluarga dan sesama pekerja memiliki peran besar dalam keputusan penggunaan susuk. Informasi mengenai manfaat, lokasi pemasangan, hingga pengalaman penggunaan susuk umumnya diperoleh melalui komunikasi dari mulut ke mulut. Rekomendasi dari keluarga dan rekan kerja yang telah lebih dahulu menggunakan susuk menjadi dasar pertimbangan pekerja untuk mengikuti praktik yang sama. Sementara itu, dari sisi resources, penggunaan susuk didukung oleh tersedianya tenaga untuk mencari informasi dan mendatangi dukun, waktu pemasangan yang relatif singkat, biaya yang berasal dari dana pribadi, serta keberadaan dukun sebagai sarana yang memudahkan akses pemasangan susuk.
Faktor culture juga berperan dalam mempertahankan penggunaan susuk di kalangan kuli panggul. Praktik ini telah menjadi bagian dari budaya yang berkembang di lingkungan pekerja dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar serta dapat diterima oleh masyarakat sekitar. Budaya tersebut memperkuat keyakinan pekerja terhadap manfaat susuk dalam membantu mengurangi kelelahan kerja. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perilaku penggunaan susuk pada kuli panggul sebagai upaya pencegahan keluhan kelelahan kerja terbentuk melalui interaksi faktor thought and feeling, personal references, resources, dan culture yang saling mempengaruhi dan memperkuat satu sama lain.
Description
Finalisasi 9 Juli 2026_Yudi
Citation
American Psychological Association 7th Edition
