Manajemen Risiko Produksi Usahatani Jagung dengan Menerapkan Sistem Pertanian Semi Organik di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Sektor pertanian memiliki peran besar sebagai penopang perekonomian dan pembangunan nasional Indonesia. Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor didalamnya yaitu subsektor pangan, holtikultura, perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan. Pada subsektor pangan dapat dilakukan proses pengelolaan dengan mengembangkan pembangunan pertanian secara berkelanjutan menggunakan sistem pertanian berkelanjutan. Pertanian semi organik merupakan menjadi solusi dalam penerapan sistem pertanian berkelanjutan karena menjadi sistem budidaya yang mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia, kemudian menggantinya dengan pupuk dan pestisida organik. Salah satu komoditas pada subsektor pangan yang dapat dibudidayakan menggunakan sistem pertanian semi organik yaitu komoditas jagung, salah satu desa yang mayoritas petaninya membudidayakan jagung semi organik adalah Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Namun, petani jagung semi organik di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember masih dihadapkan dengan faktor risiko produksi. Hal tersebut perlu adanya identifikasi dan pemetaan strategi manajemen risiko produksi di setiap tahap produksi mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan sehingga dapat mengoptimalkan hasil produksi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) faktor-faktor yang menyebabkan risiko produksi usahatani jagung semi organik di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, (2) tingkat risiko produksi pada usahatani jagung semi organik di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, dan (3) strategi manajemen risiko produksi yang dilakukan dalam usahatani jagung semi organik di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Penentuan lokasi menggunakan purposive method yang berada di Desa Pontang Kecamatan
viii
Ambulu Kabupaten Jember yang merupakan salah satu desa yang menerapkan sistem pertanian semi organik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode analitik. Metode pengambilan data menggunakan data primer dan sekunder. Metode pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode total sampling dengan kriteria didasarkan pada keaktifan kelompok tani dan petani yang menerapkan sistem pertanian semi organik pada usahatani jagung dengan jumlah 60 orang responden. Metode analisis data untuk mengidentifikasi faktor penyebab risiko produksi menggunakan fishbone diagram, untuk menganalisis tingkat risiko produksi menggunakan Koefisien Variasi (CV), dan untuk menganalisis strategi manajemen risiko produksi menggunakan tabulasi data.
Hasil penelitian menunjukkan faktor yang menyebabkan risiko produksi yaitu pengolahan lahan yang kurang optimal, penggunaan benih, tingginya intensitas serangan hama dan penyakit, penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak sesuai takaran, produktivitas hasil panen menurun, ketidakstabilan iklim dan cuaca, fluktuasi harga, dan modal yang digunakan. Tingkat risiko produksi yang didapatkan sebesar 0,23, artinya nilai 0,23 > 0,5 sehingga usahatani jagung semi organik berkategori rendah. Strategi manajemen yang diterapkan yaitu strategi ex-ante dengan pola tanam padi-jagung-jagung secara tumpang sari, penggunaan benih dari kios saprodi, varietas tunggal di semua lahan, dan pengairan sumur bor. Strategi interactive melalui pengaturan jarak tanam sedang, penggunaan pupuk tunggal atau majemuk sesuai ketersediaan, pengendalian hama dengan pestisida kimiawi secara preventif dan kuratif, serta pemanfaatan tenaga kerja secara bergantian saat terjadi kelangkaan. Strategi ex-post dengan mengandalkan tabungan pribadi sebagai sumber modal saat mengalami kerugian atau gagal panen, sehingga penanaman hanya dilakukan pada musim tanam saja.
