Konstruksi Pengetahuan Agen Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas dalam Mitigasi Non-Struktural Bencana Banjir di Desa Bojong Kulur, Bogor

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Abstract

Desa Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, merupakan wilayah paling rentan terhadap banjir kiriman di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Cileungsi dan Cikeas. Dari 29 RW permukiman yang ada, 26 di antaranya masuk zona rawan banjir. Letak geografis desa yang diapit dua sungai aktif, diperparah oleh perubahan masif tata guna lahan di kawasan hulu dan pendangkalan sungai yang belum pernah dinormalisasi secara menyeluruh sejak 1971, menjadikan banjir yang semula bersiklus lima tahunan kini bergeser menjadi bencana tahunan. Absennya sistem peringatan dini formal dari pemerintah mendorong lahirnya Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) pada 5 Maret 2016, sebuah inisiatif warga yang secara mandiri menjalankan mitigasi non-struktural bencana banjir tanpa anggaran pemerintah. Penelitian ini menganalisis bagaimana konstruksi pengetahuan agen KP2C terbentuk melalui proses-proses sosial yang berlangsung di dalam dan di sekitar komunitas tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif selama delapan minggu, wawancara mendalam dengan empat informan primer (Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan Divisi Humas KP2C) serta empat informan sekunder (Sekretaris Desa Bojong Kulur, dua staf BPBD Kabupaten Bogor, dan Ketua TPBDes Bojong Kulur), dan dokumentasi. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sementara analisis data mengacu pada model enam tahap Creswell. Landasan teoretis penelitian adalah Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, dengan Konsep Agensi Anthony Giddens sebagai kerangka pelengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan agen KP2C berlangsung melalui tiga proses dialektis. Pertama, eksternalisasi: pengetahuan lahir dari pengalaman traumatis para pendiri sebagai korban banjir tanpa peringatan dini, mendorong Pak Puarman membangun jaringan pemantau sungai berbasis SMS secara mandiri selama sebelas tahun (2005–2016), diperkaya melalui ekspedisi susur sungai, dialog dengan warga lokal hulu, dan brainstorming lintas profesi, sehingga terbentuk cadangan pengetahuan (stock of knowledge) kolektif yang komprehensif. Kedua, obyektivasi: pengetahuan personal dilembagakan menjadi organisasi berbadan hukum resmi (Februari 2020) dengan AD/ART, protokol siaga bertingkat (Siaga 3, 2, 1), sistem pemantauan ganda manual-CCTV 24 jam, dan jaringan 42.000 anggota, yang mendapat pengakuan BNPB sebagai percontohan sistem peringatan dini berbasis masyarakat secara nasional. Ketiga, internalisasi: pengetahuan yang terlembagakan mengubah orientasi perilaku pada dua level; di level pengurus melalui komitmen moral yang melampaui kewajiban struktural, dan di level masyarakat melalui adaptasi tata ruang domestik secara konkret. Nihilnya korban jiwa selama sistem KP2C beroperasi menjadi bukti empiris terkuat dari keberhasilan seluruh proses tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketiga proses dialektis tersebut tidak berjalan secara linear, melainkan membentuk siklus yang berputar secara berkesinambungan dan saling memperkuat. Konstruksi pengetahuan yang terbentuk melalui siklus ini secara keseluruhan merupakan wujud paling organik dari mitigasi non-struktural: lahir dari pengalaman langsung, digerakkan oleh komitmen moral, dan bertumpu pada kapasitas masyarakat yang kuat. KP2C membuktikan bahwa mitigasi non-struktural berbasis komunitas yang lahir dari bawah mampu menghasilkan dampak perlindungan yang signifikan, bahkan melampaui kapasitas sistem formal pemerintah dalam hal jangkauan, kecepatan respons, dan kedalaman pengetahuan lokal.

Description

Validasi file repositori 30 Juni 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By