Hubungan Perilaku Picky Eater (Pemilih Makanan) dengan Status Gizi pada Balita Usia 24-59 Bulan di Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Date

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Balita membutuhkan asupan gizi yang seimbang agar dapat tumbuh secara optimal sesuai dengan proses pembentukan dan perkembangan tubuh. Akan tetapi, permasalahan pemenuhan gizi pada balita di dunia maupun di Indonesia masih tinggi. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi status gizi balita adalah asupan makanannya. Asupan makanan balita kerap terganggu karena kesulitan makan yang berkaitan dengan tahap perkembangan kognitif dan proses kemandiriannya. Salah satu permasalahan perilaku makan yang sering dijumpai adalah perilaku picky eater, yaitu kecenderungan anak untuk memilih-milih makanan. Permasalahan picky eater tidak hanya berdampak pada individu anak, tetapi juga sistem keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelusuran pada tahap perkembangan dan fungsi keluarga menjadi penting untuk memahami bagaimana keluarga berkontribusi terhadap hubungan antara picky eater dan status gizi pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku picky eater, status gizi balita, serta menganalisis hubungan antara perilaku picky eater, fungsi keluarga, dan status gizi balita. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner Children’s Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) untuk mengukur perilaku picky eater serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi balita berdasarkan indeks BB/TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 173 balita (51,8%) merupakan picky eater dan lebih tinggi dibandingkan dengan balita yang tidak picky eater sebanyak 161 balita (48,2%). Selain itu, status gizi balita menunjukkan bahwa 248 anak (74,3%) memiliki status gizi baik, diikuti status gizi kurang 44 balita (13,2%) dan risiko gizi lebih 17 balita (5,1%). Sementara itu, balita dengan status gizi obesitas, gizi buruk, dan gizi lebih masing-masing mencapai 10 balita (3%), 9 balita (2,7%), dan 6 balita (1,8%). Analisis hubungan diperoleh p-value 0,298 dan koefisien korelasi -0,057 yang menunjukkan bahwa perilaku picky eater tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi balita. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku picky eater tidak selalu langsung berdampak terhadap status gizi, terutama apabila anak masih memiliki ketertarikan terhadap makanan tertentu dan kebutuhan energi tetap terpenuhi. Selain itu, fungsi keluarga afektif dan sosialisasi dengan aspek interaksi saat makan, respon orang tua saat anak menolak makan, frekuensi makan bersama keluarga serta fungsi keluarga perawatan kesehatan dengan aspek cara orang tua mengatasi anak sulit makan tidak memiliki hubungan signifikan dengan perilaku picky eater dan status gizi balita. Fungsi keluarga perawatan kesehatan dengan aspek keteraturan jadwal makan anak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku picky eater dengan p-value 0,035. Hal ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan makan anak yang teratur dan sehat. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa status gizi balita dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, tidak hanya perilaku picky eater saja. Oleh karena itu, intervensi yang ditujukan untuk mencegah masalah gizi pada balita sebaiknya berfokus pada pembentukan pola makan yang sehat, konsisten dan didukung lingkungan keluarga yang positif.

Description

Approved by Teddy

Keywords

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By