Show simple item record

dc.contributor.authorEka Triana Sari
dc.date.accessioned2014-01-27T08:21:11Z
dc.date.available2014-01-27T08:21:11Z
dc.date.issued2014-01-27
dc.identifier.nimNIM060210192230
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/25421
dc.description.abstractMenurut Brochhaus (dalam Druxes , 1986:3), Fisika merupakan bagian ilmu pengetahuan alam (IPA) atau sains yang menerangkan berbagai gejala dan dan kejadian alam yang memungkinkan penelitian dengan percobaan, pengukuran apa yang didapat, penyajian secara sistematis, dan berdasarkan peraturan – peraturan umum. Berdasarkan fakta yang ada telah diketahui bahwa dikalangan siswa telah berkembang kesan bahwa pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang tidak digemari siswa karena motivasi untuk belajar fisika, sehingga ada anggapan bahwa fisika itu sulit dan membosankan. Hal ini dapat dilihat dengan masih rendahnya prestasi siswa ditinjau dari NEM siswa dimana fisika menduduki urutan paling bawah yaitu dibawah pelajaran matematika (Suharto et al. 2004:1). Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang menyadarkan pada paradigma guru mengajar bukan menyadarkan pada siswa belajar (tim microteaching, 2007:46). Pembelajaran konvensional dalam prakteknya cenderung mengacu pada pandangan behavioristik. Pada umumnya, metode yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran fisika adalah metode ceramah, dengan kegiatan belajar mengajar fisika yang berlangsung searah yaitu guru sebagai pusat kegiatan, sedang murid diposisikan sebagai obyek yang akan selalu menerima apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini menyebabkan fisika menjadi pelajaran yang kurang menarik bagi siswa disebabkan fisika selalu identik dengan menghafal rumus dan ketika pembelajaran siswa cenderung pasif. SMA Negeri Rambipuji adalah salah satu sekolah yang ada dikabupaten Jember. Berdasarkan observasi kegiatan belajar mengajar yang terjadi di SMA Negeri Rambipuji Terlihat kurang bisa diterima siswa dengan baik. Hali ini dapat dilihat dari : 1) Ketika KBM berlangsung siswa aktif cenderung ramai; 2) siswa aktif cenderung menganggu teman yang lain; 3) tidak memperhatikan penjelasan guru; 4) untuk siswa yang pendiam lebih banyak mencatat; 5) siswa yang pendiam lebih sering bermain sendiri. Guru hendaknya tidak menyajikan materi pelajaran fisika dalam bentuk jadi yang membuat siswa bersikap pasif, melainkan harus di atur sehingga mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu pada pembelajaran fisika diharapkan anak didik dapat belajar merumuskan masalah, untuk menarik siswa lebih aktif berfikir dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penggunaan strategi pembelajaran harus mampu membuat siswa berfikir aktif dan tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa berfikir aktif untuk memperoleh suatu konsep dibantu pertanyaan-pertanyaan dari teman sebaya adalah Model Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan strategi Problem Solving. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan permasalahan yaitu: (1) adakah perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving dengan pembelajaran konvensional?, (2) bagaimana aktivitas belajar siswa dengan menguunakan model pembelajaran Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving pada pembelajaran Fisika di SMA?, (3) bagaimanakah retensi belajar siswa selama mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving pada pembelajaran Fisika di SMA?. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving dengan pembelajaran konvensional. (2) mengkaji aktivitas belajar siswa dengan mengunakan model pembelajaran Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving pada pembelajaran Fisika di SMA. (3) mengkaji retensi belajar siswa selama mengikuti pembelajaran menggunakan model Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving pada pembelajaran Fisika di SMA Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan tempat penelitian ditentukan menggunakan cara purposive sampling area. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Rambipuji. Responden penelitian ditentukan setelah dilakukan uji homogenitas. Penentuan sampel penelitian dengan cluster random sampling. Rancangan penelitian menggunakan desain control group pre – test post – test. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji untuk menjawab rumusan masalah yang pertama dan ketiga, menggunakan persentase aktivitas klasikal untuk menjawab rumusan masalah yang kedua. Analisis data menggunakan uji untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa diperoleh nilai dan nilai = 1,98 sehingga , maka hipotesis nihil ditolak dan hipotesis kerja diterima. Hasil analisis aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran fisika menggunakan model Deep Dialogue And Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving diperoleh persentase aktivitas siswa sebesar 74,47 % dan termasuk pada kategori aktif. Analisis data menggunakan uji untuk mengetahui retensi hasil belajar diperoleh nilai sehingga , maka hipotesis nihil diterima dan hipotesis kerja ditolak.. Berdasarkan analisis data yang diperoleh, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving dan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri Rambipuji tahun ajaran 2010/2011. (2) Aktivitas belajar siswa kelas IPA SMA Negeri Rambipuji tahun ajaran 2010/2011 selama mengikuti pembelajaran fisika menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving lebih aktif jika dibandingkan dengan aktivitas belajar siswa selama mengikuti pembelajaran konvensional. Sedangkan aktivitas yang terangkat dalam penelitian ini adalah 3 dari 8 jenis aktivitas. (3) Retensi hasil belajar siswa kelas IPA SMA Negeri Rambipuji tahun ajaran 2010/2011 setelah mengikuti pembelajaran fisika menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking (DDCT) dengan Strategi Problem Solving tinggi.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries060210192230;
dc.subjectSTRATEGI PROBLEM SOLVING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMAen_US
dc.titlePENERAPAN MODEL DEEP DIALOGUE AND CRITICAL THINKING (DDCT) DENGAN STRATEGI PROBLEM SOLVING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMAen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record