dc.description.abstract | Keadaan siswa MTs. Satu Atap (SA) Botolinggo Kecamatan Botolinggo
Kabupaten Bondowoso sebagian besar berasal dari keluarga yang bermata
pencaharian sebagai petani, sebagian pedagang, dan selebihnya pegawai. Siswa
dalam berkomunikasi dengan orang tua, kerabat, teman-teman, dan anggota
masyarakat yang lain menggunakan bahasa Madura. Banyak ditemukan siswa dalam
berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa Madura, sesekali menggunakan
bahasa Indonesia dengan logat Madura. Pemakaian bahasa Indonesia di dalam kelas
sering bercampur dengan bahasa Madura karena siswa sering kurang memahami
penjelasan guru dalam bahasa Indonesia. Dikaji dari kecepatannya, kemampuan
membaca siswa sangat rendah. Pada umumnya siswa jarang membaca buku dan tidak
memiliki bahan bacaan di rumah, sehingga berpengaruh terhadap penggunaan bahasa
Indonesia siswa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Penggunaan
kalimat bahasa Indonesia siswa dikaitkan dengan faktor sosial orang tua. Dalam
penelitian ini digunakan metode kualitatif dan kuantitatif, dilakukan dalam tiga tahap,
yaitu (1) tahap penyediaan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil
analisis data. Sumber data dalam penelitian ini adalah karangan siswa dan kuesioner
latar belakang sosial orang tua siswa MTs. Satu Atap Botolinggo Kecamatan
Botolinggo Kabupaten Bondowoso.
Perbedaan penggunaan kalimat bahasa Indonesia antar informan yaitu
kelompok informan siswa yang orang tuanya bekerja sebagai petani memiliki tingkat
penggunaan kalimat yang rendah (benar 94%, salah 6%), dibandingkan dengan siswa
yang orang tuanya bekerja sebagai pedagang dan pegawai. Kelompok informan siswa
yang orang tuanya bekerja sebagai pedagang memiliki tingkat penggunaan kalimat
yang lebih tinggi (benar 96%, salah 4%), dibandingkan dengan siswa yang orang
tuanya bekerja sebagai petani. Kelompok informan siswa yang orang tuanya bekerja
sebagai pegawai memiliki tingkat penggunaan kalimat yang paling tinggi (benar
99%, salah 1%), dibandingkan siswa yang orang tuanya bekerja sebagai pedagang
dan petani.
Siswa yang orang tuanya bekerja sebagai petani tidak pernah menggunakan
bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari, mereka lebih sering
berkomunikasi menggunakan bahasa Madura. Siswa yang orang tuanya bekerja
sebagai pedagang jarang menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan siswa yang
orang tuanya bekerja sebagai pegawai instansi pemerintah lebih sering menggunakan
bahasa Indonesia di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan
sekolah baik di dalam ruang kelas maupun di luar ruang kelas.
Siswa yang orang tuanya bekerja sebagai petani tidak memiliki fasilitas
penunjang proses penggunaan bahasa Indonesia yang cukup. Alat komunikasi yang
dimiliki siswa yang orang tuanya bekerja sebagai pedagang memiliki fasilitas
penunjang proses penggunaan bahasa Indonesia yang relatif cukup, sedangkan siswa
yang orang tuanya bekerja sebagai pegawai memiliki fasilitas penunjang proses
penggunaan bahasa Indonesia yang lebih lengkap dibandingkan siswa yang orang
tuanya bekerja sebagai petani dan pedagang. Jadi, fasilitas yang tersedia di rumah dan
penggunaan bahasa di luar lingkungan sekolah adalah faktor penentu penggunaan
kalimat bahasa Indonesia siswa dalam menmbuat karangan. | en_US |