Show simple item record

dc.contributor.authorKINASIH DWIJAYANTI
dc.date.accessioned2014-01-23T04:12:10Z
dc.date.available2014-01-23T04:12:10Z
dc.date.issued2014-01-23
dc.identifier.nimNIM040210402121
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/21995
dc.description.abstractKebudayaan merupakan salah satu ciptaan manusia sebagai usaha untuk memenuhi keperluan hidup. Kebudayaan suatu kelompok masyarakat cenderung untuk berkembang maju. Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa yang memiliki bermacam-macam budaya. Salah satu contoh kebudayaan yang ada di Indonesia adalah seni tari. Bagi sebagian masyarakat Jawa, kesenian tari bukan hanya sebagai sebuah tontonan saja, tetapi juga sebagai tuntunan dan tidak sekedar sebagai sarana hiburan saja, tetapi juga sebagai media komunikasi dan penyuluhan. Kebudayaan yang terdapat di daerah di Indonesia merupakan penyangga kebudayaan nasional Indonesia. Salah satu contoh kebudayaan daerah tersebut adalah seni tari atau ritual Sodoran Tengger yang di dalamnya terdapat mantra Penyucian Banyu Windu, yang selanjutnya dinamakan dengan sebutan Mantra Pesucen. Mantra merupakan tradisi lisan karena cara penyebarannya melalui lisan dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi. Terdapat beberapa keunikan yang terdapat dalam mantra Pesucen tersebut. Keunikan-keunikan tersebut antara lain (1) mantra mempunyai struktur yang sudah baku, (2) bahasa yang digunakan banyak yang kuno (arkais) sehingga tidak mudah untuk dipahami, (3) cara pengucapan mantra tidak seperti orang berkomunikasi seperti biasanya, dan (4) mantra mempunyai fungsi untuk menyucikan air yang akan digunakan dalam prosesi ritual Sodoran. Berdasarkan pernyataan tersebut, timbul suatu permasalahan bagaimana struktur, fungsi, pewarisan mantra, diksi atau pilihan kata, dan nilai yang terkandung dalam mantra Penyucian Banyu Windu pada ritual Sodoran. Usaha untuk menemukan jawaban permasalahan diawali dengan pengkajian teori. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, sedangkan metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi, metode wawancara, dan metode observasi. Untuk menganalisis data digunakan beberapa tahap, yaitu membaca karya sastra, interpretasi, dan apresiasi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat mantra Penyucian Banyu Windu atau mantra Pesucen pada ritual Sodoran mempunyai struktur yang sudah baku. Struktur mantra terdiri dari pembuka mantra berupa penyebutan nama Tuhan, isi mantra yang merupakan perwujudan isi mantra, dan penutup yang merupakan perwujudan berserah diri kepada Tuhan. Fungsi dari mantra yaitu untuk menyucikan air yang akan digunakan dalam prosesi ritual Sodoran. Fungsi yang mendasar dari mantra tersebut adalah sebagai media komunikasi dengan Tuhan. Diksi yang terdapat di dalam mantra tersebut menggunakan bahasa yang berkesan atau memiliki nilai rasa yang mengharap. Nilai yang terdapat dalam mantra, yaitu bahwa mantra Pesucen merupakan sebuah doa yang ditujukan manusi kepada Tuhan untuk meminta keselamatan dan kelancaran prosesi ritual Sodoran. Berdasarkan penelitian, saran yang dapat diberikan adalah (1) pengembangan kajian mantra seyogyanya banyak dilakukan dengan pengembangan apresiasi, khususnya dalam penganalisisan isi dan diksi; (2) untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan untuk mengadakan penelitian lanjutan dalam ruang lingkup yang lebih luas; (3) untuk guru Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengayaan bidang apresiasi sastra khususnya sastra lama.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries040210402121;
dc.subjectMANTRA, SUKU TENGGERen_US
dc.titleMANTRA PENYUCIAN BANYU WINDU PADA RITUAL “SODORAN” SUKU TENGGERen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record