dc.description.abstract | Kebudayaan merupakan salah satu ciptaan manusia sebagai usaha untuk
memenuhi keperluan hidup. Kebudayaan suatu kelompok masyarakat cenderung
untuk berkembang maju. Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa yang
memiliki bermacam-macam budaya. Salah satu contoh kebudayaan yang ada di
Indonesia adalah seni tari. Bagi sebagian masyarakat Jawa, kesenian tari bukan hanya
sebagai sebuah tontonan saja, tetapi juga sebagai tuntunan dan tidak sekedar sebagai
sarana hiburan saja, tetapi juga sebagai media komunikasi dan penyuluhan.
Kebudayaan yang terdapat di daerah di Indonesia merupakan penyangga
kebudayaan nasional Indonesia. Salah satu contoh kebudayaan daerah tersebut adalah
seni tari atau ritual Sodoran Tengger yang di dalamnya terdapat mantra Penyucian
Banyu Windu, yang selanjutnya dinamakan dengan sebutan Mantra Pesucen.
Mantra merupakan tradisi lisan karena cara penyebarannya melalui lisan dari
mulut ke mulut dari generasi ke generasi. Terdapat beberapa keunikan yang terdapat
dalam mantra Pesucen tersebut. Keunikan-keunikan tersebut antara lain (1) mantra
mempunyai struktur yang sudah baku, (2) bahasa yang digunakan banyak yang kuno
(arkais) sehingga tidak mudah untuk dipahami, (3) cara pengucapan mantra tidak
seperti orang berkomunikasi seperti biasanya, dan (4) mantra mempunyai fungsi
untuk menyucikan air yang akan digunakan dalam prosesi ritual Sodoran.
Berdasarkan pernyataan tersebut, timbul suatu permasalahan bagaimana
struktur, fungsi, pewarisan mantra, diksi atau pilihan kata, dan nilai yang terkandung
dalam mantra Penyucian Banyu Windu pada ritual Sodoran. Usaha untuk menemukan jawaban permasalahan diawali dengan pengkajian
teori. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, sedangkan metode pengumpulan
data dengan menggunakan metode dokumentasi, metode wawancara, dan metode
observasi. Untuk menganalisis data digunakan beberapa tahap, yaitu membaca karya
sastra, interpretasi, dan apresiasi.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat mantra Penyucian
Banyu Windu atau mantra Pesucen pada ritual Sodoran mempunyai struktur yang
sudah baku. Struktur mantra terdiri dari pembuka mantra berupa penyebutan nama
Tuhan, isi mantra yang merupakan perwujudan isi mantra, dan penutup yang
merupakan perwujudan berserah diri kepada Tuhan. Fungsi dari mantra yaitu untuk
menyucikan air yang akan digunakan dalam prosesi ritual Sodoran. Fungsi yang
mendasar dari mantra tersebut adalah sebagai media komunikasi dengan Tuhan. Diksi
yang terdapat di dalam mantra tersebut menggunakan bahasa yang berkesan atau
memiliki nilai rasa yang mengharap. Nilai yang terdapat dalam mantra, yaitu bahwa
mantra Pesucen merupakan sebuah doa yang ditujukan manusi kepada Tuhan untuk
meminta keselamatan dan kelancaran prosesi ritual Sodoran.
Berdasarkan penelitian, saran yang dapat diberikan adalah (1) pengembangan
kajian mantra seyogyanya banyak dilakukan dengan pengembangan apresiasi,
khususnya dalam penganalisisan isi dan diksi; (2) untuk peneliti selanjutnya,
penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan untuk mengadakan
penelitian lanjutan dalam ruang lingkup yang lebih luas; (3) untuk guru Bahasa dan
Sastra Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengayaan bidang
apresiasi sastra khususnya sastra lama. | en_US |