Kontrol Kursi Roda Berbasis Eeg Dengan Metode Long Short Term Memory
Abstract
Stroke adalah penyakit yang timbul dari aliran peredaran darah otak yang
tersumbat atau pecahnya pembuluh darah di dalam otak sehingga mengalami
kerusakan pada fungsi kerja otak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Akibat
dari penyakit stroke, penderita mengalami kelumpuhan separuh badan, tidak bisa
berbicara, tidak bisa menelan, dan gangguan keseimbangan tubuh (Wijayanti,
Poni et al., 2014).
Awal penggunaannya, kursi roda masih dioperasikan secara kovensional
yaitu mendorong atau memutar roda kedepan agar bergerak sesuai keinginan
pengguna. Seiring perkembangan, kursi roda digerakkan secara otomatis dengan
menggunakan tuas seperti joystick untuk bergerak maju, mengubah arah kursi
roda berbelok ke arah kiri ataupun ke arah kanan, dan mengerem untuk
memberhentikan kursi roda. Kontrol kursi roda adalah salah satu inovasi yang
difungsikan sabagai solusi untuk mengatasi penderita stroke. Alat ini dapat
dikendalikan secara otomatis salah satunya dengan menggunakan saraf otak.
Pada penelitian sebelumnya dilakukan oleh Naufal dijelaskan bahwa kursi
roda menggunakan sensor neurosky mindware untuk menghasilkan gelombang
otak dan menggunakan sensor garis untuk mendeteksi warna merah, hijau, atau
biru saat kursi roda berjalan (Naufal, 2019). Kemudian penelitian dilakukan oleh
Norman Erwin dengan menggunakan klasifikasi metode SVM dalam mengontrol
kursi roda berbasis EMG, namun mengalami kesulitan dalam mengontrol
kecepatan pada kursi roda karena setiap responden memiliki berat yang berbeda
sehingga dibutuhkan pengaturan kecepatan pada setiap pengguna (Erwin, 2020).
Selain itu penelitian dilakukan oleh Tigo dijelaskan bahwa kursi roda otomatis
dengan head motion control menggunakan sensor gyroscope dan masih menggunakan metode kontrol PID untuk menggerakan kursi roda dan masih
terdapat kekurangan pada pergerakan dan akselerasi kursi roda dan proses tuning
PID membutuhkan waktu lama (Tigo, 2020).
Pada penelitian ini, salah satu alternatif yang dikembangkan yaitu kursi roda
berbasis EEG dengan metode LSTM (Long Short Term Memory). Penelitian ini
juga menggunakan ekstrasi fitur sebagai pengolahan sinyal EEG. Penelitian kali
ini lebih difokuskan untuk memprediksi arah gerak kursi roda berupa
membayangkan menggerakan kaki (berjalan maju), membayangkan menggerakan
tangan kanan (belok ke kanan) dan membayangkan menggerakan tangan kiri
(belok kiri).
Pada penelitia ini diperoleh hasil bahwa performa sistem kendali kursi roda
berbasis sinyal EEG menggunakan metode Long Short Term Memory (LSTM)
secara testing dan training bahwa klasifikasi menggunakan metode LSTM kurang
efektif untuk mengenali gerakan motor imaginer berupa membayangkan tangan
kanan (berbelok ke kanan), membayangkan tangan kiri (berbelok ke kiri),
membayangkan kedua kaki ( berjalan maju), dan keadaan rileks/ idle (berhenti).
Dari analisa penelitian ini diketahui bahwa pengujian training ketika nilai cell
LSTM, jumlah windowing, dan epoch diubah, maka memberi pengaruh kepada
hasil akurasi pada setiap responden. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh kondisi
responden. Diperoleh akurasi terbaik ketika nilai cell LSTM sebesar 50, jumlah
windowing sebesar 100, dan nilai epoch sebesar 100 pada responden 3 sebesar
99%, 93%, dan 98 %.
Kemudian perbedaan gender responden pria dan responden wanita juga
mempengaruhi nilai akurasi saat training dan testing bahwa akurasi dengan
responden pria memiliki nilai akurasi yang lebih baik daripada responden wanita.
Hal ini terjadi dikarenakan saat pengambilan data, responden pria dalam keadaan
kondisi tubuh prima, otak dalam keadaan fokus dan ketebalan rambut
mempengaruhi hasil prediksi arah gerakan kursi roda. Hal ini dibuktikan pada
pengujian online responden 3 memiliki akurasi 90% sedangkan responden 5
memiliki akurasi 50%
Collections
- UT-Faculty of Engineering [4173]