dc.description.abstract | Pemerintahan Soeharto dikenal dengan pemerintahan yang anti komunis.
Kecurigaan terhadap Cina pada aksi G30S/PKI berakhir dengan pembekuan
hubungan selama 23 tahun. Kondisi internal masing-masing negara mendukung
untuk menyegerakan normaliasi. Kebijakan Asimilasi dan Kewarganegaraan
terhadap etnis Tionghoa mampu meyakinkan bahwa Indonesia memegang kendali
penuh atas negaranya. Penurunan harga minyak di Indonesia, serta perubahan
orientasi politik Cina adalah faktor lainnya. Kesepakatan Tokyo tahun 1989
menjadi bukti normalisasi segera dilaksanakan. Normalisasi kedua negara
terlaksana pada 8 Agustus 1990. Selepas dilaksanakan normalisasi, kerjasama
antar negara mulai dilakukan demi meningkatkan hubungan Indonesia dengan
Cina.
Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi (1) Apa yang melatar
belakangi normalisasi hubungan bilateral Indonesia dengan Cina pada tahun
1990-1998; (2) Bagaimana wujud pelaksanaan normalisasi hubungan bilateral
Indonesia dengan Cina pada tahun 1990-1998; (3) Bagaimana dampak
normalisasi hubungan bilateral Indonesia dengan Cina pada tahun 1990-1998.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Menganalisis latar belakang normalisasi
hubungan bilateral Indonesia dengan Cina pada tahun 1990-1998; (2)
Menganalisis wujud pelaksanaan normalisasi hubungan bilateral Indonesia
dengan Cina pada tahun 1990-1998; (3) Menganalisis dampak normalisasi
hubungan bilateral Indonesia dengan Cina pada tahun 1990-1998. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan politik ekonomi.
Tahapan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (1) Heuristik yaitu
pengumpulan berupa sumber-sumber melalui kegiataan studi kepustakaan terkait
topik penelitian yang dilakukan, (2) Kritik yaitu tahapan mengkritik sumber dokumen untuk memperoleh keabsahan sumber, dengan menyeleksi secara fisik
sumber yang telah diperoleh (kritik ekstern), dan mengkritik sumber dengan cara
membandingkan informasi satu dengan yang lainnya (kritik intern), (3)
Interpretasi yaitu menggabungkan fakta-fakta yang ada melalui informasi yang
didapat sehingga dapat menjadi satu kesatuan yang utuh, dan (4) Historiografi
yaitu tahapan pemaparan hasil dari interpretasi dengan menuliskan fakta
penelitian sejarah yang telah diperoleh yang sebelumnya telah dilaksanakan.
Hasil penelitian yaitu (1) Pelaksanaan normalisasi dapat segera
dilaksanakan melalui pertemuan saat kesepakatan Tokyo tahun 1989 dan
dikeluarnya Instruksi Presiden No. 9/1985 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Hubungan Dagang Langsung. Normalisasi dilaksanakan dengan beberapa
pertimbangan lain seperti, perubahan orientasi politik luar negeri, kebijakan
politik terhadap etnis Tionghoa (2) Normalisasi secara formal ditandai dengan
penandatanganan MoU Penerusan Hubungan Diplomatik (3) Pengiriman Duta
Besar (Dubes) Indonesia Abdurrahman Gunadirdja dan Dubes Cina Qian
Yongnian untuk pertama kalinya selepas normalisasi (4) Kerjasama bilateral
melalui penandatanganan MoU adalah persetujuan perdagangan, bidang
Penerangan (Radio, Film, TV), kesehatan, pemuda, dan tentang kebudayaan fisik
dan olahraga.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah (1) latar belakang normalisasi
hubungan bilateral Indonesia dengan Cina didasarkan oleh faktor politik dan
ekonomi Faktor politik diantaranya yaitu kebijakan Orde Baru terhadap etnis
Tionghoa, perubahan orientasi politik luar negeri Cina, Kesepakatan Tokyo tahun
1989, hubungan Cina-Amerika Serikat, dan keinginan Soeharto menjadi Ketua
Gerakan Non Blok (GNB). Dan, faktor ekonomi yaitu kesulitan ekonomi yang
dihadapi Indonesia pada saat penurunan harga minyak (2) Pelaksanaan
normalisasi diwujudkan dengan melalui perjanjian hubungan diplomatik,
pengiriman Duta Besar, kunjungan kenegaraan, dan kerjasama bialateral pada
bidang sosial ekonomi. (3) Dampak selepas normalisasi yaitu peningkatan
hubungan perdagangan dan pendirian Lembaga Indonesia-China (LIC) | en_US |