dc.description.abstract | Rosela merupakan tanaman yang penggunaannya dalam bidang kesehatan di
Indonesia sudah banyak dimanfaatkan. Di negara lain, seluruh bagian tanaman rosela
yaitu buah, kelopak bunga, mahkota bunga, dan daun selain digunakan sebagai bahan
makanan dan minuman, juga digunakan sebagai obat tradisional. Bagian rosela yang
sering digunakan sebagai obat adalah bagian kelopak (Maryani dan Kristiana,
2008:23-25). Ekstrak kelopak rosella mempunyai khasiat di antaranya sebagai
antikejang (antipasmodik), mengobati cacingan (antelmintik), dan antibakteri
(Suryaatmaja dan Nelistya, 2009:14). Zat aktif dalam kelopak bunga rosella yang
berfungsi menghambat aktivitas antibakteri adalah gossypetin. Gossypetin adalah
salah satu turunan dari flavonoid berupa pigmen yang terdapat dalam bunga dan
kelopak tanaman rosella (Mounnissamy et al, 2002). Untuk mengetahui aktivitas
senyawa antibakteri yang terkandung dalam kelopak bunga rosella maka penelitian
ini bertujuan untuk menguji daya hambat rebusan dan perasan bunga rosella merah
dan menentukan Konsentrasi Hambatan Minimum (KHM) terhadap pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA
Universitas Jember pada bulan Maret 2012 sampai bulan Mei 2012. Penelitian ini
merupakan penelitian in vitro dengan menggunakan metode sumuran dengan kontrol
positif kloromfenikol 0,1% dan kontrol negatif aquades. Serial konsentrasi yang
digunakan adalah 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10%.
Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 3 kali ulangan. Analisis data dengan One-Way ANOVA menggunakan SPSS
versi 13 for Windows, untuk menguji perbedaan diantara semua pasangan perlakuan
dilanjutkan dengan uji Duncan dengan α=0,05. Sedangkan untuk menguji perbedaan
daya hambat terhadap kedua bakteri dilakukan uji T-Test.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa Konsentrasi
Hambatan Minimum (KHM) rebusan bunga rosella merah terhadap pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus adalah pada konsentrasi 0,4% dan Konsentrasi
Hambatan Minimum (KHM) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah
pada konsentrasi 0,5%. Sedangkan Konsentrasi Hambatan Minimum (KHM) perasan
bunga rosella merah terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 0,3% dan
Escherichia coli adalah 0,4%. Berdasarkan uji ANOVA rebusan nilai F hitung pada
Staphylococcus aureus adalah 414,628, dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dimana
(P<0,05). Sedangkan F hitung pada Escherichia coli adalah 179,487, dengan nilai
signifikan sebesar 0,000 dimana (P<0,05). Berdasarkan uji ANOVA perasan nilai F
hitung pada Staphylococcus aureus adalah 686,592
.
dengan nilai signifikan sebesar
0,000 dimana (P<0,05). Sedangkan F hitung pada Escherichia coli adalah 1085,257,
dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dimana (P<0,05). Hal ini berarti ada perbedaan
yang nyata antar perlakuan yaitu rebusan dan perasan bunga rosella merah baik
terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Selanjutnya berdasarkan uji T-Test menunjukkan perbedaan daya hambat rebusan dan
perasan bunga rosella merah terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus
dan Escherichia coli tidak berbeda nyata atau tidak signifikan pada taraf α=0,05
dengan nilai probabilitas sebesar 0,962 (P>0,05).
Kesimpulan dari hasil analisis data dan pembahasan, bahwa rebusan dan
perasan bunga rosella merah memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hal ini dikarenakan kandungan aktif
dalam kelopak bunga rosella yaitu gossipetin yang berfungsi menghambat aktivitas
antibakterial dengan mekanisme penghambatan dengan cara mendenaturasi protein
dinding sel bakteri. | en_US |