Show simple item record

dc.contributor.advisorROKHMAH, Dewi
dc.contributor.advisorNAFIKADINI, Iken
dc.contributor.authorDEWI, Febri Tunggal
dc.date.accessioned2020-11-09T01:22:31Z
dc.date.available2020-11-09T01:22:31Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/101774
dc.description.abstractMenurut UNICEF dalam Profil Indonesia 2018 (2018: 41) Indonesia merupakan negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia yaitu 457,6 ribu perempuan usia 20-24 tahun yang menikah sebelum berusia lima belas tahun. Jember merupakan lima kabupaten atau kota yang memiliki angka pernikahan tertinggi di Jawa Timur dan setiap tahunya mengalami Fluktuatif. Penyebab pernikahan usia dini yaitu pemaksaan dari orang tua, faktor lingkungan, rendahnya pendidikan dan kemauan diri sendiri.Pemerintah Indonesia melakukan upaya untuk menurunkan angka pernikahan dini melalui program Generasi Berencana (GenRe) yang dikembangkan oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana (BKKBN). Program ini memiliki dua pendekatan yaitu melalui PIK-R (Pemberian Informasi dan Konseling Remaja) dan BKR (Bina Keluarga Remaja). BKKBN menugaskan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) untuk melaksanakan program Kampung KB, setiap kecamatan mempunyai minimal satu penyuluh. PKB merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berstatus tenaga fungsional yang bertugas membina satu atau lebih desa. PKB mempunyai beberapa peran yaitu menjadi penyuluh operasional kampung KB, pelayanan, penggerakan dan pengembangan program dengan seluruh pihak yang ikut mengambil dalam pelaksanaan program KB. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan desain studi kasus. Penelitian ini dilakukan di 13 kecamatan yaitu kecamatan Mumbulsari, Gumuk Mas, Sukowono, Rambipuji, Kencong, Sukorambi, Panti, Patrang, Pakusari, Balung, Sumberbaru, Mayang dan Arjasa. Informan utama yaitu Petugas Penyuluh KB, sedangkan informan tambahan adalah kader BKR dan Orangtua yang mempunyai anak remaja dan belum menikah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi. Teknik penyajian data secara verbal. Kreabiditas dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Teknik triangulasi dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menyatakan sebagian besar penyuluh menyusun materi mengenai KIE karena selain masuk dalam program kerja BKKBN juga karena angka pernikahan dini tinggi dan PUP itu sangat penting. Selama melakukan pemahaman, penyuluh hanya melakukan penyuluhan saja, baik itu penyuluhan perorangan, maupun penyuluhan perkelompok. Pada saat penyuluhan, penyululuh biasanya memberikan dampak negatif dari pernikahan dini, hal ini dilakukan agar masyarakat tidak menikahkan anaknya diusia dini. Seluruh Petugas penyuluh telah melakukan bina keluarga remaja dan dilaksanakan satu bulan sekali, kegaiatan BKR ini bergabung dengan kegiatan lain, seperti kegiatan posyandu, PKK dan pengajian. Adapun hambatan yang ditemui petugas penyuluh yaitu kurangnya pemahaman dari masyarakat itu sendiri, kurangnya anggaran bahkan kurangnya saranan dan prasarana. Sebagain besar petugas penyuluh KB telah memberikan konseling terhadap masyarakat, baik itu konseling perorangan maupun konseling kelompok. Pada saat pemberian konseling biasanya petugas mendatangi rumah warga door to door, hal ini direnakan karena terkendala oleh waktu selain adapun hambatan lainnya yaitu kurangnya kesadaran dari masyrakat itu sendiri, anggaran dan sarana dan prasarana dari pemerintah. Pemberian konseling ini diayakini bisa mengurangi angka pernikahan dini, hal ini dikarenakan bisa menambah pengetahuan dari masyarakat itu sendiri. Petugas penyuluh telah melakukan advokasi terhadap tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Pemberian advokasi merupakan salah satu upaya pendekatan yang dilakukan petugas penyuluh, selain itu juga juga sebagai tali siraturahmi dan juga sebagai perkenalan program yang nantinya akan dilaksankan. Menjalin komunikasi yang baik merupakan salah satu keberhasilan dari suatu program, pada saat pemberian advokasi petugas tidak mengalami hambatan. Pemberian media sebagain besar tidak mengembangkan media mereka hanya mengandalkan media dari pusat, akan tetapi sebagian kecil informan juga membuat media yaitu media di youtube dan X-Banner. Pemberian media ini dirasa sudah cukup berpengaruh untuk menurunkan angka pernikahan dini. Adapun hambatan yang ditemui pada saat pemberian media tersebut yaitu kurangnya saranan dan prasarana seperti kurangnya LCD (Liquid Crystal Display). Petugas penyuluh telah berekerja sama dengan lintas sektor yaitu bekerja sama dengan berbagai lintas sektor, baik bekerja sama dengan KUA terkait PUP, berekerja sama dengan Bapinsa, TNI dan berbagai lintas sektor lainnya. Saran yang diberikan kepada Petugas penyuluh keluarga berencana lebih meningkatkan pengetahuan atau informasi dalam pemberian KIE, sehingga pemberian informasi tidak hanya dilakukan kepada orangtua saja melainkan kepada remaja, maka dari itu diperlukan pengembangkan media salah satunya buku pop up.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries152110101175;
dc.subjectPeran Penyuluh Keluarga Berencanaen_US
dc.subjectPERNIKAHAN DINIen_US
dc.subjectBINA KELUARGA REMAJA (BKR)en_US
dc.subjectPENYULUH KELUARGA BERENCANA (PKB)en_US
dc.titlePeran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Terhadap Pencegahan Pernikahan Dini Melalui Program Bina Keluarga Remaja (Bkr)en_US
dc.typeThesisen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record