Peningkatan Kelarutan Rutin melalui Pembentukan Kokristal Rutin-Nikotinamida dengan Perbedaan Rasio Stoikiometri 1:1 dan 1:3
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Peningkatan Kelarutan Rutin Melalui Pembentukan Kokristal RutinNikotinamida dengan Perbedaan Rasio Stoikiometri 1:1 dan 1:3 : Alifatun
Nabila: 2026; 87 halaman; Fakultas Farmasi, Universitas Jember.
Rutin merupakan senyawa flavonoid glikosida alami yang banyak
ditemukan pada berbagai tanaman seperti apel, jeruk, gandum, dan teh. Senyawa
ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi,nantibakteri, antivirus,
antikanker, dan neuroprotektif, sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai
bahan aktif obat. Pengembangan rutin sebagai bahan aktif obat masih mengalami
keterbatasan karena kelarutannya yang rendah dalam air, yaitu sebesar 0,125
mg/mL. Rendahnya kelarutan rutin tersebut menyebabkan bioavailabilitas rutin
menjadi terbatas, yaitu sebesar 20% apabila digunakan melalui rute oral.
Upaya untuk meningkatkan kelarutan rutin dapat dilakukan melalui metode
kokristalisasi. Pembentukan kokristal diketahui mampu memperbaiki kelarutan
dengan menurunkan energi kisi kristal serta meningkatkan afinitas bahan aktif
terhadap pelarut dengan adanya koformer. Penurunan energi kisi kristal dapat
menyebabkan molekul bahan aktif lebih mudah berinteraksi dan terhidrasi oleh
molekul air. Dalam proses pembentukan kokristal, bahan aktif dan koformer
berinteraksi melalui ikatan nonkovalen seperti ikatan hidrogen.
Pada penelitian ini, pemilihan koformer dilakukan menggunakan
pendekatan komputasi dengan software ChemBioDraw Ultra 12.0 untuk
memprediksi potensi pembentukan ikatan hidrogen berdasarkan nilai energy
minimize. Nilai energy minimize yang lebih rendah menunjukkan interaksi ikatan
hidrogen yang lebih stabil. Setelah dilakukan seleksi terhadap beberapa kandidat
koformer, nikotinamida dipilih sebagai koformer dalamm penelitian ini karena
memiliki tiga gugus yang dapat berperan sebagai donor dan akseptor proton yang
dapat membentuk ikatan hidrogen dengan rutin. Hasil analisis komputasi antara
rutin dan nikotinamida menunjukkan nilai energy minimize yang rendah, yaitu
sebesar 28,1575 kcal/mol, sehingga nikotinamida dipilih sebagai koformer
koformer dalam penelitian ini.
Selain pemilihan koformer, rasio stoikiometri juga merupakan faktor
penting dalam pembentukan kokristal karena dapat mempengaruhi interaksi ikatan
hidrogen serta struktur kisi kristal yang terbentuk. Pada penelitian ini digunakan
rasio stoikiometri 1:1 dan 1:3 dengan metode slurry menggunakan pelarut etanol.
Pemilihan kedua rasio stoikiometri tersebut didasarkan pada hasil analisis
komputasi yang menunjukkan bahwa energy minimize terendah diperoleh pada
rasio 1:1 dan 1:3. Metode slurry dipilih karena rutin dan nikotinamida memiliki
perbedaan kelarutan yang jauh (inkongruen) dalam pelarut yang sama.
Selanjutnya, pembentukan kokristal dibuktikan melalui karakterisasi,
meliputi analisis termal menggunakan Differential Scanninng Calorimetry (DSC),
analisis kristalinitas dengan Powder X-Ray Diffraction (PXRD), analisis morfologi
permukaan kristal dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), serta analisis
gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared Spectrophotometry (FTIR).
Keberhasilan pembentukan kokristal rutin-nikotinamida ditunjukkan melalui hasil
analisis DSC yang menunjukkan adanya titik lebur baru pada kokristal rutinnikotinamida dibandingkan dengan rutin murni, analisis PXRD yang menunjukkan
munculnya puncak difraksi baru pada kokristal rutin-nikotinamida dibandingkan
dengan rutin murni, analisis SEM yang menunjukkan morfologi permukaan kristal
yang berbedan dengan rutin dan nikotinamida, dan analisis FTIR yang
menunjukkan pergeseran bilangan gelombang pada gugus-gugus yang terlibat
dalam pembentukan ikatan hidrogen.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan kokristal rutinnikotinamida pada rasio stoikiometri 1:1 dan 1:3 mampu meningkatkan kelarutan
rutin dalam air. Perbedaan rasio stoikiometri berpengaruh terhadap besarnya
peningkatan kelarutan yang diperoleh. Kokristal rutin-nikotinamida rasio 1:3
menunjukkan peningkatan kelarutan rutin yang lebih tinggi yaitu 1,42 kali
dibandingkan rutin murni, sedangkan kokristal rutin-nikotinamida rasio 1:1
menunjukkan peningkatan kelarutan yang lebih rendah yaitu 1,32 kali.
Description
Validasi file repositori 11 Juni 2026 Magang SP (Siti)_Firli
