Efektivitas Aplikasi ZPT Alami dan Sintetis terhadap Pertumbuhan Awal Setek Klon Kakao MCC 02 dan Sulawesi 1

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting peranannya dalam meningkatkan perekonomian nasional. Hal ini dikarenakan kakao ikut berperan dalam mendorong pengembangan agroindustri dan pengembangan wilayah khususnya sebagai penyuplai bahan baku untuk kebutuhan industri baik makanan maupun minuman. Komoditas kakao juga menjadi komoditas ekspor tertinggi ke-4 di sektor perkebunan setelah kelapa sawit, kelapa dan karet (Pusdatin, 2024). Lahan perkebunan kakao dalam kurun dua dekade terakhir mengalami peningkatan yang cukup pesat. Pusdatin, (2022) melaporkan bahwa luas lahan perkebunan kakao di tahun 2001 hanya 0,82 juta ha, namun pada tahun 2021 menjadi 1,53 juta ha atau meningkat sebesar 54,51%. Akan tetapi peningkatan ini tidak berlangsung konsisten. Menurut data BPS (2024) sejak tahun 2019 luas areal kakao di Indonesia mengalami penurunan, dari 1,56 juta ha pada tahun 2019 menjadi 1,39 juta ha pada tahun 2023. Penurunan luas lahan kakao menyebabkan harga biji kakao di pasar nasional semakin mahal. Harga kakao pada tahun 2023 sampai sekarang cenderung mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2023 harga kakao mengalami kenaikan sebesar 3,15 persen perbulan, rata-rata harga mencapai Rp 28.140/kg. Januari 2024 harga kakao naik secara signifikan mencapai Rp 37.809/kg. Harga tertinggi kakao terjadi pada bulan November 2024 mencapai Rp 104.283/kg (Pusdatin, 2024). Harga kakao yang relatif mengalami kenaikan menyebabkan banyak petani tertarik untuk budidaya kakao kembali. Sehingga kebutuhan bibit kakao sangat penting untuk saat ini, untuk mendukung peluang tersebut.

Description

Finalisasi_Maya_03 September 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By