Perbedaan Hitung Jenis Leukosit pada Pasien Tuberkulosis Dengan dan Tanpa Ko-infeksi Soil-transmitted Helminths di Puskesmas Jenggawah Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas kedokteran
Abstract
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang menjadi permasalahan
yang serius secara global, terutama di Indonesia. Global Tuberculosis Report oleh
WHO (2016) menyatakan bahwa terdapat 10,4 juta kasus TB baru di dunia pada
tahun 2015 dan menduduki peringkat keempat penduduk dengan penderita TB
paling banyak di dunia pada tahun 2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember
(2015) menyatakan bahwa terdapat sebanyak 527 laporan kasus TB yang ada di
Kabupaten Jember selama 2015. Keberhasilan pengobatan TB dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti pendidikan, tingkat pengetahuan, kebiasaan merokok,
status gizi, dan penyakit penyerta pasien (Sianturi, 2014). Infeksi cacing
merupakan salah satu penyakit penyerta yang dapat diderita oleh pasien
tuberkulosis dan infeksi yang paling sering menyerang manusia disebabkan oleh
Soil-transmitted Helminths (Wijaya dkk., 2019). World Health Organization
(2019) mencatat lebih dari 1,5 milyar penduduk atau 24% dari populasi dunia
terinfeksi STH. Ko-infeksi STH pada pasien TB dapat memengaruhi keberhasilan
terapi TB dikarenakan adanya respon imun Th1 dan Th2 (Alemu dkk., 2019).
Respon imun Th1 dan Th2 yang sifatnya saling menghambat satu sama lain akan
mengakibatkan kemungkinan perubahan leukosit dalam darah. Tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hitung jenis
leukosit pada pasien tuberkulosis dengan dan tanpa ko-infeksi Soil-transmitted
Helminths. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain
cross sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total
sampling dan terdapat 26 subjek penelitian yang bersedia terlibat serta memenuhi
kriteria penelitian. Sampel darah subjek penelitian digunkaan untuk pemeriksaan
hitung jenis leukosit di Laboratorium Patologi Klinik FK UNEJ agar mendapatkan
data berupa jumlah jenis-jenis leukosit per 100 sel leukosit. Sampel feses dari
subjek penelitian dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya telur
STH dengan metode sedimentasi dan flotasi di Laboratorium Parasitologi FK
UNEJ. Penelitian ini mendapatkan hasil sebanyak 3 dari 26 pasien TB (11,53%)
di Puskesmas Jenggawah positif terinfeksi STH sehingga prevalensi koinfeksi
STH pada pasien TB di Puskesmas Jenggawah tergolong rendah. Spesies STH
yang menginfeksi yaitu Ascaris lumbricoides pada 1 pasien dan Hookworm pada
2 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan jumlah sel leukosit
jenis neutrofil stab pada pasien tuberkulosis dengan dan tanpa koinfeksi STH
(p=0,030) serta tidak adanya perbedaan jumlah eosinofil, basofil, neutrofil
segmen, limfosit dan monosit pada pasien tuberkulosis dengan dan tanpa ko
infeksi Soil-transmitted Helminths. Hasil ini memberikan kesimpulan bahwa
pasien tuberkulosis dengan ko-infeksi STH memiliki kemungkinan yang lebih
besar mengalami peningkatan neutrofil stab dalam darah. Hal ini dapat
dikarenakan oleh faktor infeksi akut dari tuberkulosis dan juga adanya respon
imun yang tumpang tindih antara tuberkulosis dengan STH mengakibatkan tubuh
mengompensasi dengan peningkatan neutrofil dalam darah untuk membunuh M.
tuberculosis yang semakin meningkat dalam tubuh.
Description
reupload file repository 14 april 2026 izza/toufik
