Hubungan Riwayat Imunisasi dengan Perawakan Balita di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Gangguan pertumbuhan merupakan kondisi tidak sesuainya tinggi badan
anak dengan tahap pertumbuhan yang diharapkan menurut usianya. Gangguan
pertumbuhan sering dikaitkan dengan penyakit infeksi karena menyebabkan
berkurangnya asupan, penyerapan, serta pengalihan nutrisi dari pertumbuhan. Salah
satu upaya untuk menimbulkan dan/atau memperkuat imunitas seseorang dari suatu
penyakit adalah dengan pemberian imunisasi. Akan tetapi, cakupan imunisasi di
Indonesia masih rendah, khususnya imunisasi lanjutan. Oleh sebab itu, cakupan
imunisasi yang masih rendah tersebut dapat menjadi penyebab masih banyaknya
gangguan pertumbuhan anak. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji hubungan antara riwayat imunisasi dengan perawakan balita di
Kabupaten Jember.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian cross sectional. Penelitian
ini dilaksanakan pada September 2024 – Januari 2025 dengan jumlah sampel
sebanyak 100 balita yang tersebar di 10 wilayah kerja puskesmas di Kabupaten
Jember. Data karakteristik responden diperoleh melalui wawancara, sedangkan data
riwayat imunisasi dan perawakan balita diperoleh melalui buku KIA. Hasil
penelitian diuji menggunakan uji Chi Square.
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar subjek balita berusia 36–59
bulan dan berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar ibu dan ayah balita
melahirkan pada usia dewasa awal dengan rentang usia 25–36 tahun dan saat ini
sebagian besar orang tua balita juga berusia dewasa awal dengan rentang usia 25
36 tahun, serta menempuh pendidikan hingga SMA sederajat. Sementara itu,
sebagian besar orang tua balita memiliki penghasilan perbulan <Rp1.916.983 dan
seluruh orang tua memiliki persepsi yang positif tentang imunisasi. Berdasarkan
penelitian juga didapatkan sebanyak 70 dari 100 balita telah memperoleh imunisasi
secara lengkap dan 30 sisanya belum memperoleh imunisasi secara lengkap.
Sebanyak 65 dari 100 balita berperawakan normal, sedangkan sebanyak 13 balita
berperawakan sangat pendek dan 22 balita berperawakan pendek. Tidak didapatkan
balita berperawakan tinggi di penelitian ini.
Berdasarkan analisis menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai p-value
sebesar 0,002 yang berarti didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara
riwayat imunisasi dengan perawakan balita. Penelitian ini memberikan informasi
bahwa masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap
terutama imunisasi lanjutan karena berbagai mispersepsi. Sehingga, instansi
kesehatan perlu meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya imunisasi lanjutan.
Description
Reaploud Repository February_agus
