Perancangan Diversion Channel dan Sump pada Area Rencana Penambangan Batuan Andesit Di Pasuruan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Kegiatan penambangan dengan metode tambang terbuka merupakan salah
satu pendekatan utama dalam pemenuhan kebutuhan sumberdaya mineral, namun
metode ini memiliki tantangan terhadap faktor alam, khususnya di wilayah yang
memiliki iklim tropis dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Air limpasan
permukaan yang tidak terkontrol dapat masuk ke area penambangan apabila sistem
penyaliran yang tersedia tidak mampu menampung debit air tersebut. Dampak yang
ditimbulkan tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga menyangkut aspek
keselamatan kerja, karena genangan air dapat menurunkan stabilitas lereng dan
membuat kondisi jalan licin.
Permasalahan ini relevan pada area penelitian karena lokasi belum
memasuki tahap penambangan aktif dan masih berada pada fase perencanaan,
sementara terdapat aliran sungai yang melintas di tengah area rencana
penambangan. Pada saat curah hujan ekstrem, kapasitas tampungan alami sungai
tersebut berpotensi tidak mampu menampung debit air, sehingga perancangan
sistem penyaliran tambang perlu dimulai sejak tahap perencanaan.
Penelitian ini difokuskan pada empat komponen utama sistem penyaliran:
debit limpasan yang masuk ke area rencana penambangan, diversion channel, inpit sump, dan sistem pemompaan. Debit limpasan dihitung secara terpisah untuk
dua fungsi berbeda, karena diversion channel dan in-pit sump menangani sumber
air yang secara konsep berbeda: diversion channel menangani air dari luar batas pit,
sedangkan sump menangani air yang jatuh langsung di dalam pit.
Tahap pertama adalah analisis hidrologi menggunakan data curah hujan
harian maksimum 14 tahun (2011–2024), diuji dengan beberapa metode distribusi
frekuensi untuk menentukan curah hujan rencana periode ulang 25 tahun (R₂₅).
Hasil analisis menunjukkan R₂₅ = 179,89 mm, yang dikonversi menjadi intensitas
curah hujan I = 18,64 mm/jam menggunakan persamaan Mononobe.
Debit untuk perancangan diversion channel dihitung dari zona DTH di luar
batas pit (C = 0,6, luas total 0,374 km²) menggunakan Metode Rasional,
menghasilkan Q = 1,164 m³/s. Debit inflow untuk in-pit sump dihitung terpisah per
tahun dari luas area pit aktif (C = 0,9, total luas 0,113 km²), menghasilkan total Q
= 0,53 m³/s dengan nilai terbesar pada Pit Tahun 2 (0,164 m³/s) karena luas
bukaannya paling besar.
Berdasarkan debit Q = 1,164 m³/s, diversion channel dirancang
menggunakan persamaan Manning dengan penampang trapesoid optimal (n =
0,025, S = 0,010, α = 60°), menghasilkan lebar dasar b = 0,703 m, kedalaman air y
= 0,609 m, freeboard F = 0,552 m, tinggi total saluran h = 1,161 m, dan lebar muka
air B = 1,407 m. Verifikasi hidraulik menghasilkan Fr = 0,856 (aliran subkritis,
stabil), sedangkan verifikasi kestabilan lereng saluran menggunakan metode
Ordinary/Fellenius menghasilkan FK = 6,184, jauh di atas nilai minimum 1,50
sesuai Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018. Analisis self cleansing
menunjukkan kecepatan aliran rencana (1,810 m/s) sekitar 82,3 kali kecepatan kritis
pengendapan sedimen, sehingga saluran tidak berisiko mengalami pendangkalan.
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
ix
Komponen kedua adalah in-pit sump, dengan pendekatan satu pit satu sump
sehingga menghasilkan lima unit sump. Volume air limpasan per pit dihitung dari
R₂₅ dan C = 0,9, dikalikan faktor keamanan 1,25 sesuai Kepmen ESDM No. 1827
K/30/MEM/2018, menghasilkan volume desain dari 1.916,50 m³ (Pit 5) hingga
7.137,80 m³ (Pit 2). Dimensi fisik sump diturunkan dari geometri pit, dengan lebar
sump 50% dari lebar floor pit dan kedalaman seragam 3 m.
Komponen terakhir adalah sistem pemompaan menggunakan pompa
sentrifugal submersible tipe dewatering, beroperasi 20 jam per hari. Pemilihan
diameter pipa mempertimbangkan kecepatan aliran 1,5–3,0 m/s, menghasilkan
variasi diameter: 8 inch (Pit 1–3), 6 inch (Pit 4), dan 4 inch (Pit 5). Perhitungan
head total, yang merupakan akumulasi head statis, kerugian gesekan pipa keluar
dan hisap, kerugian katup, head kecepatan, serta kerugian belokan, menghasilkan
nilai dari 30,369 m (Pit 1) hingga 52,972 m (Pit 5). Pada pit dengan diameter pipa
lebih kecil dan jalur lebih panjang (Pit 4 dan Pit 5), kerugian gesekan pipa keluar
menjadi kontributor dominan, bahkan melampaui head statis menegaskan bahwa
pemilihan diameter dan jalur pipa merupakan faktor desain paling kritis dalam
sistem pemompaan.
Description
Validasi file repositori 11 Agustus 2026_Firli
