Efektivitas Pertolongan Pertama Luka Bakar Menggunakan Air Suhu Ruang, Air Dingin, NaCl 0.9%, dan Aloevera Terhadap Ketebalan Jaringan Granulasi Pada Tikus Putih (Rattus novergicus)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Luka bakar derajat II paling banyak terjadi di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan angka kejadian luka bakar derajat II mencapai 85,4% dari seluruh kasus luka bakar. Penyebabnya banyak terjadi di rumah tangga akibat kegiatan memasak, seperti terkena minyak panas, setrika listik, air panas, dan ledakan gas LPG. Luka bakar derajat II merupakan cedera jaringan yang mengenai lapisan epidermis dan lapisan dermis serta dapat sembuh melalui 4 fase secara berurutan yaitu fase hemostatik, fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodeling. Pada fase proliferasi terjadi pembentukan ketebalan jaringan granulasi yang penting untuk memfasilitasi pembentukan epitel baru dengan mengisi jaringan ke area luka yang ditandai dengan migrasi keratinosit menuju inti luka. Namun, inflamasi yang berkepanjangan pada luka dapat menghambat pembentukan jaringan granulasi. Beberapa strategi pertolongan pertama luka bakar yang tepat, diantaranya mendinginkan luka dengan mengaliri air dengan suhu ruang, air dingin, dan NaCl 0.9% yang bermanfaat untuk menurunkan nyeri, mengurangi edema, memperlambat keparahan luka, hingga membantu proses epitelisasi. Selain itu, penggunaan bahan topikal alami seperti aloe vera juga dapat digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan fibroblas, membentuk jaringan granulasi., dan mempercepat proses re-epitelisasi luka. Banyaknya rekomendasi pertolongan luka bakar yang dianjurkan oleh organisasi atau penelitian-penelitian yang ada, diperlukan manajemen pertolongan pertama luka bakar yang relevan sehingga mampu mengembangkan perawatan luka bakar yang optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas pertolongan pertama luka bakar menggunakan air suhu ruang, air dingin, NaCl 0.9%, dan aloe vera terhadap ketebalan jaringan granulasi pada tikus putih (Rattus novergicus). Metode penelitian berupa penelitian eksperimental dengan post-test design only. Jumlah sampel sebanyak 30 dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok irigasi dengan air suhu ruang (K1), kelompok irigasi dengan air dingin (K2), kelompok irigasi dengan NaCl 0.9% (K3), kelompok aloe vera dengan irigasi air suhu ruang (K4), kelompok aloe vera tanpa irigasi (K5), dan kelompok kontrol dengan irigasi air suhu ruang dan pemberian vaseline (K6). Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi makroskopis (tampilan dan diameter luka) serta mikroskopis (ketebalan jaringan granulasi). Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji One-Way ANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan diameter luka pada hari ke-3 di seluruh kelompok intervensi, namun mengalami penurunan pada hari ke-7 dan hari ke-14. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05) antar kelompok intervensi terhadap diameter luka bakar. Hasil lain juga menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05) antar kelompok intervensi terhadap ketebalan jaringan granulasi pada hari ke-14.
Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan bermakna pada diameter luka dan ketebalan jaringan granulasi diantara seluruh kelompok intervensi. Setiap intervensi memiliki manfaat yang relatif sama dalam proses pembentukan jaringan granulasi. Pertolongan pertama dapat menjadi tindakan awal yang membantu untuk meminimalkan kerusakan jaringan dan mengatur kondisi luka yang stabil, sehingga sel-sel makrofag, fibroblas, kolagen, dan growth factor dapat bekerja lebih optimal pada pembentukan jaringan granulasi.
Description
Reupload File Repositori 10 Februari 2026_Yudi/Rega
