Self-Label pada Remaja Gay dengan Perilaku Seksual Berisiko terhadap Penularan IMS dan HIV-AIDS (Studi Kualitatif di Kabupaten Jember)

dc.contributor.authorAbdul Aziz Azari
dc.date.accessioned2026-04-14T03:27:02Z
dc.date.issued2018-06-05
dc.descriptionreupload file repositori 14 april 2026_kurnadi/fani
dc.description.abstractSelf label adalah pelabelan terhadap diri sendiri dikalangan gay sebagai top atau bottom guna mengkomunikasikan selera anal seks mereka. Dalam kehidupan gay, terdapat tiga self-label, yaitu top, bottom dan versatile. Top adalah laki-laki yang mempunyai perilaku IAI (Insertive Anal Intercourse) dalam berhubungan seksual, selain itu top juga berperan sebagai seorang suami yang tugasnya adalah menyayangi, bersikap hangat, memberikan perhatian dan membuat seorang bottom nyaman saat berada disampingnya. Bottom adalah lakilaki yang mempunyai perilaku RAI (Receptive Anal Intercouse) dalam berhubungan seksual, selain itu bottom juga berperan sebagai seorang istri yang akan merasa senang dan nyaman jika mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang top. Versatile adalah seorang gay yang mempunyai sifat top dan bottom tergantung dari situasi yang mereka hadapi. Penularan IMS dan HIVAIDS juga tidak lepas dari self-label menjadi top maupun bottom. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dominick (2008), bottom lebih berisiko terkena HIV-AIDS daripada top. Hal tersebut berkaitan dengan perilaku seksual RAI dan IAI yang dilakukan oleh top dan bottom. Bottom yang dalam melakukan hubungan seksual melalui anal akan sangat berisiko terlukanya anal bottom karena jaringan mukosa pada anal sangat tipis sehingga sangat rentang untuk tergores dan luka sehingga risiko untuk penularan IMS dan HIV-AIDS sangat besar terjadi pada bottom, apalagi jika hubungan seksual yang dilakukan tanpa adanya pengaman. Tujuan penelitian untuk menganalisis self-label pada remaja gay dengan perilaku seksual berisiko terhadap penularan IMS dan HIVAIDS di Kabupaten Jember dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian ditentukan dengan purposive dengan kriteria remaja gay yang pernah berpacaran dan melakukan hubungan seksual dengan laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk narasi dan kutipan langsung dari informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penularan IMS dan HIV-AIDS juga mempunyai hubungan dengan interaksi simbolik mind dan self. Seseorang yang merasa kurang perhatian, kasih sayang dan cinta dari orang lain akan mencari hal tersebut pada orang lain, jika satu orang kurang bisa memberikan cinta dan kasih sayang, maka mereka akan mencari kasih sayang pada orang kedua, ketiga dan seterusnya sehingga sangat berisiko terhadap penularan IMS dan HIV-AIDS. Selain itu, remaja gay bottom lebih menerima keadaan diri mereka sebagai gay (identity achievement) daripada remaja gay top yang masih ragu dan belum menerima keadaan diri mereka sebagai gay (identity moratorium). Seorang bottom lebih berisiko terkena IMS dan HIV-AIDS karena seorang bottom melakukan hubungan seksual yang bersifat RAI dimana anal mempunyai lapisan mukosa yang tipis dan mudah sekali luka dan tergores sehingga hal itu akan sangat memudahkan masuknya virus IMS maupun HIV-AIDS. Oleh karena itu, seorang bottom lebih berisiko terkena IMS dan HIV-AIDS daripada seorang top. Remaja gay top maupun bottom merasa lebih nyaman berinteraksi dengan sesama gay karena mereka merasa adanya satu pemikiran dan satu nasib dengan teman-teman gay. Saat berinteraksi dengan masyarakat, remaja gay top dan bottom menyembunyikan dan menjaga identitas mereka agar privacy mereka tidak ketahuan oleh masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah remaja gay top maupun gay bottom sangat berisiko tertular IMS maupun HIV-AIDS terkait dengan perilaku seksual yang mereka lakukan. Selain itu, remaja gay bottom lebih cenderung melakukan interaksi simbolik berupa mind (pikiran), sedangkan interaksi simbolik self (diri) dilakukan oleh remaja gay top maupun bottom. Selain itu, remaja gay bottom lebih menerima keadaan diri mereka sebagai gay (identity achievement) daripada remaja gay top yang masih ragu dan belum menerima keadaan diri mereka sebagai gay (identity moratorium). Remaja gay top mempunyai ciri-ciri fisik yang
dc.description.sponsorshipDPU: Dr. Dewi Rokhmah, S.KM., M.kes DPA: Erwin Nur Rif’ah, M.A., Ph.D
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/7051
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Kesehatan Masyarakat
dc.subjectSelf-Label
dc.subjectRemaja Gay
dc.subjectIMS dan HIV-AIDS
dc.titleSelf-Label pada Remaja Gay dengan Perilaku Seksual Berisiko terhadap Penularan IMS dan HIV-AIDS (Studi Kualitatif di Kabupaten Jember)
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Abdul Aziz Azari - 162520102003.pdf
Size:
1.47 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: