Pengembangan Modul Ajar Trigonometri Pembelajaran Diferensiasi Berbasis Problem Based Learning untuk Meningkatkan Bernalar Kritis Siswa

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Abstract

Modul ajar trigonometri pembelajaran berdiferensiasi berbasis problem based learning yang telah dikembangkan dinyatakan valid, praktis dan efektif serta relevan untuk meningkatkan bernalar kritis siswa. Pembelajaran berdiferensiasi yang telah diterapkan, diperoleh hasil bahwa pembelajaran berdiferensiasi relevan untuk meningkatkan bernalar kritis siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D). Model penelitian pengembangan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah model pengembangan ADDIE (analysis, design, development, implementation, evaluation) yang dikembangkan Dick dan Carry. Tahap pertama dalam penelitian ini adalah tahap analisis. Dalam tahapan ini, kegiatan utama adalah menganalisis perlunya pengembangan modul ajar, beberapa analisis yang dilakukan adalah analisis kebutuhan dengan melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran dan analisis materi pembelajaran. Tahapan kedua adalah tahapan desain. Tahapan desain meliputi beberapa perencanaan pengembangan modul ajar diantaranya meliputi beberapa kegiatan yaitu merancang modul ajar, merancang LKPD (LKPD visual, LKPD auditori dan LKPD kinestetik), merancang bahan ajar materi trigonometri dan merancang soal pre test dan post test. Setelah tahap desain dilanjutkan dengan tahap ketiga yaitu tahap pengembangan. Tahap pengembangan dalam model ADDIE berisi kegiatan realisasi rancangan produk yaitu modul ajar. Langkah pengembangan dalam penelitian ini meliputi kegiatan membuat dan memodifikasi modul ajar. Dalam tahap desain telah disusun kerangka konseptual pengembangan modul ajar. Dalam tahap pengembangan kerangkangka konseptual tersebut direalisasikan dalam bentuk produk pengembangan modul ajar yang siap diimplementasikan sesusi dengan tujuan.Tahap keempat yaitu tahapan impelementasi. Sebelum produk diujicobakan, produk tersebut harus dinilai terlebih dulu kualitasnya. Menurut Van den Akker dan Nieveen (dalam Rochmad, 2012) menyatakan bahwa dalam penelitian dan pengembangan perlu memperhatikan kriteria kualitas. Pengujian kualitas kelayakan produk harus memenuhi kriteria kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Modul ajar yang telah dikembangkan selanjutnya produk divalidasi oleh dua orang validator. Hasil validasi produk yang meliputi modul ajar yang dilengkapi LKPD, bahan ajar, soal pre test dan soal post test berturut-turut 3,77 ; 3,69 ; 3,81 ; 3,89 ; 3,78. Hasil validasi produk yang dilakukan oleh dua orang validator tersebut dinyatakan valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. Setelah produk divalidasi, Langkah selanjutnya yaitu implemetasi modul ajar. Tahapan implementasi dalam penelitian ini merupakan tahapan untuk mengimplementasikan modul ajar yang telah dikembangkan pada situasi yang nyata dikelas. Selama implementasi, modul ajar yang telah dikembangkan diterapkan pada kondisi yang sebenarnya. Tujuan utama dalam langkah implementasi adalah membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu menjamin terjadinya pemecahan masalah untuk mengatasi persoalan yang sebelumnya dihadapi oleh siswa dalam proses pembejaran, serta memastikan bahwa pada akhir pembelajaran kemampuan bernalar kritis siswa meningkat. Tahap kelima yaitu tahap evaluasi. Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain pengembangan ADDIE. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap pengembangan modul ajar dalam pembelajaran. Tahap evaluasi digunakan untuk mengukur kepraktisan dan kefektivan modul ajar. Analisis kepraktisan terhadap modul ajar yang telah diujicobakan diperoleh dari hasil lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan hasil angket respon siswa. Hasil observasi keterlaksaan pembelajaran sebesar 83,33% dan masuk kategori sangat baik. Sedangkan hasil angket respon siswa setelah dianalisis memperoleh skor rata-rata 3,14 masuk dalam kategori baik. Jadi kesimpulan dari hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dengan kategori sangat baik dan angket respon siswa dengan kategori baik, maka modul ajar yang dikembangkan adalah praktis.Langkah selanjutnya yaitu analisis keefektivan. Data untuk menganilisis keefektifan modul ajar didapat dari hasil pretest dan posttes, yang kemudian hasil tes tersebut dianalisis untuk mengetahui presentase ketuntasan siswa dan peningkatan kemampuan bernalar kritis siswa. Berdasarkan hasil posttes yang telah dianalisis diperoleh presentase ketuntasan klasikal di kelas X-6 sebesar 83 % dan dinyatakan tuntas secara klasikal karena memenuhi ≥70%. Sedangkan untuk peningkatan kemampuan bernalar kritis siswa yang telah dianalisis menggunakan N-Gain diperoleh skor 0,38 dan masuk kategori sedang. Hasil observasi kemampuan bernalar kritis siswa memperoleh skor rata-rata 3,34 dan masuk dalam kategori baik. Sehingga berdasarkan hasil presentase ketuntasan, analisis N-Gain, dan hasil observasi kemampuan bernalar kritis modul ajar yang telah dikembangkan dinyatakan efektif. Kesimpulan secara keseluruhan modul ajar yang telah dikembangkan dinyatakan valid, praktis dan efektif

Description

Reupload File Repositori 3 Februari 2026_Rudi K/Lia

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By