Analisis Jumlah Kematian Larva Aedes aegypti pada Berbagai Konsentrasi Larvasida Ekstrak Daun Bakau Hitam (Rhizophora mucronata)

Abstract

Analisis Kematian Larva Aedes aegypti Pada Berbagai Konsentrasi Larvasida Ekstrak Daun Bakau Hitam (Rhizopora mucronata); Yuni Kamilah Munawarah; 212110101162; 40 halaman; Peminatan Kesehatan Lingkungan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas jember. Salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan serius di masyarakat saat ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh vektor Nyamuk Aedes aegypti. Kasus DBD di Indonesia pada minggu ke-43 tahun 2024 tercatat 210.664 kasus DBD, dengan angka insidensi sebesar 3,81 per 100.000 penduduk dan case fatality rate (CFR) sebesar 0,84%, yang mencakup 894 kematian. Penggunaan abate menjadi pengendalian vektor nyamuk yang populer dikalangan masyarakat saat ini. Namun, abate menunjukkan adanya resistensi pada nyamuk di beberapa negara seperti Brazil, Bolivia, Argentina, Kuba, Thailand dan Indonesia, tepatnya di Kota Cimahi. Oleh karena itu, diperlukan larvasida yang memiliki toksisitas rendah terhadap organisme lain dan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan vektor nyamuk. Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah larvasida nabati berbahan dasar tumbuhan, seperti daun bakau hitam. Daun bakau hitam memiliki kelebihan karena mengandung berbagai metabolit sekunder, seperti tanin, alkaloid, dan steroid, yang berperan sebagai senyawa aktif larvasida dan bersifat toksik terhadap larva. Penelitian ini menggunakan ekstrak daun bakau hitam yang diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang diperoleh diuji terhadap larva Aedes aegypti instar III dalam berbagai konsentrasi: 6.000 ppm, 9.000 ppm, dan 12.000 ppm, serta kontrol (0 ppm). Pengamatan dilakukan pada interval waktu 6, 12, 18, dan 24 jam. Total pengulangan/replikasi dari empat perlakuan adalah 24 pengulangan/replikasi. Adapun untuk uji statistik meliputi uji normalitas (Shapiro-Wilk), homogenitas varians (Levene Test), dan uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji post-hoc Bonferroni. Berdasarkan observasi jumlah kematian larva diperoleh hasil yakni, pada kelompok kontrol atau konsentrasi 0 ppm (X0) tidak terdapat larva Aedes aegypti yang mati karena tidak ada pemberian perlakuan. Pada konsentrasi 6.000 ppm (X1) dalam waktu pengamatan jam ke-6 mampu membunuh 8% dan meningkat menjadi 58,6% pada waktu pengamatan jam ke-24. Pada konsentrasi 9.000 ppm (X2) dalam waktu pengamatan jam ke-6 mampu membunuh 13,3% dan meningkat menjadi 80% pada waktu pengamatan jam ke-24. Pada konsentrasi 12.000 ppm (X3) dalam waktu pengamatan jam ke-6 mampu membunuh 18% dan meningkat menjadi 94% pada waktu pengamatan jam ke-24. Hasil penelitian uji statistik juga diketahui bahwa seluruh waktu pengamatan memiliki nilai signifikansi p<0,05, yang memiliki artian bahwa terdapat perbedaan rata-rata kematian larva Aedes aegypti pada seluruh waktu pengamatan jam ke-6, 12, 18 dan 24. Kesimpulan pada kelompok kontrol dengan konsentrasi 0 ppm (X0), tidak ditemukan kematian larva Aedes aegypti selama seluruh waktu pengamatan. Sementara itu, pada kelompok perlakuan pertama dengan konsentrasi 6.000 ppm (X1), tercatat sebanyak 88 larva atau 58,6% yang mati pada pengamatan jam ke24. Pada kelompok perlakuan kedua dengan konsentrasi 9.000 ppm (X2), tercatat sebanyak 120 atau 80% yang mati pada pengamatan jam ke-24. Pada kelompok perlakuan ketiga dengan konsentrasi 12.000 ppm (X3), tercatat sebanyak 141 atau 94% yang mati pada pengamatan jam ke-24. Terdapat perbedaan jumlah kematian larva Aedes aegypti pada kelompok kontrol 0 ppm (X0) dengan kelompok perlakuan ekstrak daun bakau hitam (Rhizopora mucronata) konsentrasi 6.000 ppm (X1), 9.000 ppm (X2), dan 12.000 ppm (X3) terhadap seluruh waktu pengamatan jam ke-6, 12, 18, 24. Menurut WHO, larvasida dikatakan efektif jika mampu membunuh larva sebesar 10–95%, sehingga ekstrak daun bakau hitam (Rhizophora mucronata) telah memenuhi kriteria efektivitas tersebut. Efektivitas ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kematian larva Aedes aegypti seiring bertambahnya konsentrasi dan waktu paparan, dengan konsentrasi 12.000 ppm memberikan tingkat kematian tertinggi dan berbeda signifikan dari kelompok kontrol. Namun, penelitian ini memiliki kelemahan berupa perubahan warna pada air setelah pemberian ekstrak daun bakau hitam, sehingga disarankan agar penelitian selanjutnya agar dapat menghilangkan warna tersebut.

Description

Finalisasi Maya_06 Oktober 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By