Asuhan Keperawatan Halusinasi Pendengaran pada Pasien Skizofrenia dengan Terapi Dzikir di Rehabilitas Bina Laras Pasuruan
| dc.contributor.author | Faisal Maulidana Nur | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-28T01:25:52Z | |
| dc.date.issued | 2026-08-28 | |
| dc.description | FINALISASI oleh Arif 2026 Agustus 28 | |
| dc.description.abstract | Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada pasien skizofrenia. Kondisi ini ditandai dengan munculnya persepsi berupa suara atau bisikan tanpa adanya rangsangan nyata dari lingkungan. Halusinasi pendengaran dapat menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam membedakan realitas dan fantasi sehingga berpotensi menimbulkan perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang tepat untuk membantu pasien mengendalikan halusinasi. Selain terapi farmakologis, terapi nonfarmakologis seperti terapi dzikir dapat digunakan sebagai pendekatan spiritual yang bertujuan memberikan ketenangan, meningkatkan fokus, serta membantu pasien mengalihkan perhatian dari stimulus halusinasi yang dialaminya. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada satu pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dengan diagnosis medis skizofrenia di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras Pasuruan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Intervensi keperawatan yang diberikan berupa terapi dzikir dengan mengucapkan kalimat Allahu Akbar, Lailahaillallah, Alhamdulillah, dan Subhanallah masing-masing sebanyak 33 kali. Terapi diberikan selama tiga hari berturut-turut sesuai dengan kondisi dan kemampuan pasien. Hasil: Hasil studi kasus menunjukkan adanya perubahan positif setelah pemberian terapi dzikir. Pasien tampak lebih tenang, lebih kooperatif selama proses interaksi, serta mampu mengalihkan perhatian ketika bisikan halusinasi muncul. Selain itu, frekuensi dan intensitas halusinasi yang dirasakan pasien mengalami penurunan. Perubahan tersebut ditandai dengan berkurangnya perilaku berbicara sendiri, meningkatnya kemampuan pasien dalam mengenali munculnya halusinasi, serta kemampuan menggunakan terapi dzikir secara mandiri sebagai salah satu cara untuk mengendalikan halusinasi yang dialaminya. Pembahasan: Penerapan terapi dzikir pada pasien skizofrenia dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran menunjukkan hasil yang positif dalam membantu mengontrol gejala halusinasi. Terapi dzikir memberikan efek relaksasi dan ketenangan psikologis sehingga pasien lebih mampu memusatkan perhatian pada aktivitas yang nyata dibandingkan pada suara atau bisikan yang didengarnya. Selain meningkatkan aspek spiritual, terapi dzikir juga membantu pasien mengembangkan mekanisme koping yang lebih adaptif dalam menghadapi halusinasi. Berdasarkan hasil studi kasus ini, terapi dzikir dapat digunakan sebagai terapi pendamping dalam asuhan keperawatan jiwa untuk membantu menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia. | |
| dc.description.sponsorship | Ns. Nurul Huda, S.Psi, S.Kep., M.Si | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/14510 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keperawatan | |
| dc.subject | Skizofrenia | |
| dc.subject | Halusinasi Pendengaran | |
| dc.subject | Terapi Dzikir | |
| dc.subject | Asuhan Keperawatan Jiwa. | |
| dc.title | Asuhan Keperawatan Halusinasi Pendengaran pada Pasien Skizofrenia dengan Terapi Dzikir di Rehabilitas Bina Laras Pasuruan | |
| dc.type | Other |
