Optimasi Konsentrasi Hidroksipropil Metilselulosa dan Etil Selulosa dalam Preparasi Hollow Microspheres Ranitidin Hidroklorida

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Farmasi

Abstract

Ulkus peptikum adalah gangguan saluran pencernaan yang terjadi karena kerusakan mukosa akibat sekresi asam lambung dan pepsin yang berlebihan. Ulkus peptikum merupakan putusnya mukosa lambung yang meluas sampai di bawah epitel. Ulkus peptikum bisa terjadi pada lambung dan duodenum. Pravalensi ulkus peptikum di Indonesia ditemukan 6-15% terutama terjadi pada usia 20-50 tahun. Terapi yang bisa digunakan dalam penanganan penyakit ini adalah ranitidin hidroklorida. Ranitidin hidroklorida merupakan obat antagonis kompetitif histamin yang khas pada reseptor H2 yang secara efektif dapat mengurangi sekresi asam lambung. Beberapa kelemahan dari sediaan ranitidin hidroklorida konvensional diantaranya adalah bioavalibiltas sistemik rendah yaitu 50% dan waktu paruh yang pendek yaitu sekitar 2 jam, sehingga membutuhkan frekuensi pemberian berulang untuk mempertahankan konsentrasi obat di dalam tubuh. Sediaan controlled release dapat mempertahankan dan memperpanjang waktu tinggal obat di lambung sehingga meningkatkan bioavalibiltas obat, mengurangi interval pemberian dosis dan dapat meningkatkan kepatuhan pasien. Salah satu pengembangan sistem ini yaitu sistem mengapung (hollow microspehers). Hollow microspheres merupakan sistem penghantaran obat terkontrol dalam bentuk multiple unit yang dirancang agar sediaan dapat mengapung dalam cairan lambung dan bahan aktif dapat dilepaskan secara perlahan-lahan pada laju yang diinginkan. Preparasi hollow microspheres dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode emulsion solvent evaporation dengan kombinasi polimer hidroksipropil metilselulosa dan etil selulosa. Pemilihan kombinasi polimer HPMC dan etil selulosa bertujuan untuk memperpanjang waktu tinggal obat di saluran pencernaan dan mengontrol laju pelepasan obat sehingga dapat mencegah terjadinya fluktuasi dosis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh formula optimum dari kombinasi jumlah polimer HPMC dan etil selulosa pada sediaan hollow microspheres ranitidin hidroklorida. Respon yang diamati berupa nilai entrapment efficiency, nilai buoyancy dan ukuran partikel. Hasil respon yang didapatkan diolah menggunakan metode desain faktorial dengan bantuan software desain expert versi 11.0 sehingga didapatkan formula optimum. Formula optimum terpilih kemudian dikarakterisasi meliputi nilai yield, SEM dan analisis FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah HPMC dan etil selulosa memiliki pengaruh terhadap nilai entrapment efficiency, nilai buoyancy, dan ukuran partikel hollow microspheres ranitidin hidroklorida yang dapat dilihat berdasarkan nilai efek faktor. Pada nilai entrapment efficiency, jumlah polimer HPMC dan etil selulosa memberikan efek meningkatkan respon nilai entrapment efficiency. Interaksi antara keduanya menurunkan nilai entrapment efficiency. Pada nilai buoyancy, penggunaan polimer HPMC memberikan efek menurunkan nilai buoyancy dan etil selulosa meningkatkan nilai buoyancy, interaksi keduanya menurunkan nilai buoyancy. Pada nilai ukuran partikel, jumlah polimer HPMC dan etil selulosa memberikan efek positif yang artinya meningkatkan ukuran partikel hollow microspheres ranitidin hidroklorida. Berdasarkan hasil analisis software design expert versi 11.0 formula optimum hollow microspheres ranitidin hidroklorida adalah kombinasi jumlah HPMC sebesar 200 mg dan jumlah etil selulosa sebesar 800 mg. Formula optimum hollow microspheres ranitidin hidroklorida yang dihasilkan memiliki ukuran partikel sebesar 713,201 µm ± 17,320, nilai entrapment efficiency sebesar 92,092 % ± 1,744, nilai buoyancy sebesar 71,915 % ± 1,751. Karakterisasi sediaan meliputi nilai yield sebesar 93,254% ± 2,27, hasil analisis Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa hollow microspheres ranitidin hidroklorida yang dihasilkan berbentuk sferis dengan morfologi permukaan yang tidak rata dan kasar dan hasil analisis FTIR menunjukkan tidak ada interaksi antara bahan aktif dan polimer yang mengakibatkan perubahan gugus fungsi dan tidak ada pergeseran pita yang signifikan pada bilangan gelombang yang dihasilkan

Description

Reupload file repository 7 April 2026_Rudy/Halima

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By