Pelaksanaan Pilar Pengendalian Administratif Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Tuberkulosis di Puskesmas Singosari Kabupaten Malang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis
(TB), dengan Jawa Timur menjadi salah satu provinsi penyumbang terbanyak.
Kabupaten Malang termasuk wilayah prioritas dengan insiden tinggi, dan
Puskesmas Singosari menempati posisi keempat dalam jumlah kasus TB tertinggi
di antara 39 Puskesmas, yakni 78 kasus pada tahun 2023, meningkat dari 53 kasus
pada 2022. Peningkatan ini berimplikasi pada tingginya risiko penularan TB di
fasilitas pelayanan kesehatan, terutama kepada petugas kesehatan. Petugas
kesehatan diketahui memiliki risiko lebih tinggi terpapar TB, sebagaimana
dibuktikan dalam penelitian Iskandar (2023) yang melaporkan prevalensi TB laten
sebesar 78,6% pada tenaga kesehatan. Sejalan dengan itu, Mardiyah (2022)
menemukan bahwa 70% petugas yang kontak dengan pasien TB menunjukkan hasil
positif terhadap antibodi interferon gamma. Untuk meminimalkan risiko tersebut,
diterapkan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis (PPI TB),
yang mencakup empat pilar, dengan pilar administratif sebagai garis pertahanan
pertama. Pilar ini berperan langsung dalam memutus rantai penularan melalui
triase, pemisahan pasien, penyuluhan etika batuk, pelayanan cepat, dan sistem
rujukan. Namun, hasil penilaian Infection Control Risk Assessment (ICRA) PPI
Puskesmas Singosari tahun 2021 menunjukkan bahwa salah satu komponen penting
dari pilar administratif yang belum terlaksana secara optimal adalah penempatan
pasien dengan risiko penularan tinggi, khususnya pasien dengan infeksi airborne
seperti TB.
Description
reeapload Rudi H
