Autekologi dan Cadangan Karbon Populasi Dehaasia pugerensis, Spesies Terancam Punah di Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri

dc.contributor.authorSyafira Lailatul Ulfa Marfuah
dc.date.accessioned2026-10-21T06:50:05Z
dc.date.issued2026-07-28
dc.descriptionFinalisasi Oktober 2026_Yudi
dc.description.abstractDehaasia pugerensis merupakan salah satu tumbuhan endemik yang ditemukan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Koorders dan Veleton pada tahun 1904. Eksplorasi kembali baru dilakukan pada tahun 2022 oleh Helmanto et al. di Kecamatan Wuluhan dan Ambulu, Kabupaten Jember, yang menandai penemuan kembali spesies ini setelah periode panjang tanpa laporan temuan. Spesies ini dikategorikan sebagai Critically Endangered (CR) menurut kriteria IUCN. Habitat alami D. pugerensis saat pertama kali ditemukan adalah wilayah Puger, Jember. Salah satu kawasan yang masih relatif alami dan memiliki kedekatan geografis dengan ditemukan D. pugerensis sebelumnya adalah Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Kondisi lingkungan yang masih terjaga dan struktur vegetasi yang kompleks menjadikan TNMB sebagai lokasi yang representatif untuk dikaji dinamika populasi dan potensi cadangan karbon dari spesies tersebut. Hingga saat ini, penelitian mengenai autekologi dan fungsi ekologi D. pugerensis di TNMB, khususnya di Resort Bandealit, belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur populasi D. pugerensis serta hubungannya dengan faktor abiotik (tanah, iklim mikro, dan topografi) sebagai dasar kajian autekologi di Resort Bandealit, TNMB. Selain itu, penelitian ini bertujuan mengestimasi potensi cadangan karbon populasi D. pugerensis di Resort Bandealit, TNMB. Penelitian dilakukan pada November 2025-Februari 2026 di kawasan Blok Terjun, Resort Bandealit, TNMB, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pengambilan data D. pugerensis menggunakan metode jelajah, struktur tumbuhan ditentukan dengan mengumpulkan data diameter batang, tinggi pohon, densitas kanopi, dan berat jenis kayu. Data abiotik diukur pada setiap kanopi dengan tiga kali pengulangan. Parameter udara yang diukur meliputi intensitas cahaya, suhu lingkungan, dan kelembapan udara yang pengukurannya dilakukan pada posisi satu meter di atas permukaan tanah, sementara parameter tanah yang diukur meliputi pH dan kelembapan tanah. Selain itu, topografi juga diukur yang meliputi ketinggian dan kemiringan tanah. Selanjutnya, data diameter batang dan tinggi tumbuhan dikelompokkan untuk menentukan struktur populasi berdasarkan fase pertumbuhan, data faktor abiotik dengan struktur populasi dianalisis dengan analisis PCA untuk menentukan hubungannya, dan data diameter batang, berat jenis dan kanopi dianalisis untuk mengestimasi cadangan karbon spesies D. pugerensis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 129 individu dengan struktur populasi didominasi oleh individu muda, yaitu fase semai (84 individu) dan pancang (37 individu). Sebaliknya individu dewasa yaitu fase tiang dan pohon ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit, masing masing hanya empat individu. Persebaran individu D. pugerensis menunjukkan pola yang tidak merata dan cenderung mengelompok di sekitar individu pada fase tiang dan pohon. Pola tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan regenerasi D. pugerensis terutama berlangsung pada lokasi-lokasi tertentu yang memiliki kondisi habitat sesuai, meskipun kedekatan spasial dengan individu dewasa dapat berperan dalam pola persebarannya. Hubungan antara jumlah individu dan faktor lingkungan menunjukkan bahwa jumlah individu memiliki hubungan positif yang kuat dengan kemiringan area, ketinggian, dan pH tanah. Sebaliknya, kelembaban tanah memiliki hubungan negatif yang kuat dengan jumlah individu, sedangkan suhu udara dan kelembaban udara tidak menunjukkan hubungan dengan jumlah individu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa topografi dan karakteristik tanah merupakan faktor lingkungan yang berkaitan dengan distribusi D. pugerensis pada lokasi penelitian. Dari aspek fungsi ekologis, total biomasa D pugerensis pada lokasi penelitian sebesar 3.63 ton/ha dengan total cadangan karbon sebesar 1,81 ton C/ha. Cadangan karbon terdistribusi pada bagian batang, kanopi, dan akar, dengan proporsi terbesar tersimpan pada bagian kanopi. Meskipun individu pada fase tiang dan pohon ditemukan dalam jumlah relatif sedikit, fase pohon memberikan kontribusi terbesar terhadap total cadangan karbon. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa individu berukuran besar memiliki peran penting dalam penyimpanan karbon populasi D. pugerensis. Populasi D. pugerensis di kawasan Blok Terjun, Resort Bandealit, TNMB memiliki struktur yang didominasi fase semai dan pancang. Jumlah individu dengan kemiringan, ketinggian dan pH tanah memiliki hubungan kuat positif. Kelembaban tanah memiliki hubungan kuat negatif dengan jumlah individu. Berdasarkan aspek fungsi ekologis, populasi D. pugerensis memiliki total cadangan karbon sebesar 1,81 ton C/ha.
dc.description.sponsorshipProf. Dra.Hari Sulistiyowati, M.Sc., Ph.D.
dc.description.sponsorshipDr.Retno Wimbaningrum M.Si.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/15692
dc.language.isoOther
dc.publisherFakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
dc.subjectautecology
dc.subjectcarbon storage
dc.subjectDehaasia pugerensis
dc.subjectMeru Betiri National Park
dc.titleAutekologi dan Cadangan Karbon Populasi Dehaasia pugerensis, Spesies Terancam Punah di Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Syafira Lailatul Ulfa Marfuah - 241820401004.pdf
Size:
1.51 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description:

Collections