Pemaknaan Moro’ pada Alumni Pondok Pesantren dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Jember (Studi Ethnografi Iksass Rayon Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Pendidikan islam dan pondok pesantren merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah peradaban islam di Indonesia. Pendidikan islam merupakan pendidikan agama yang berfungsi untuk membentuk individu yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran islam. Perkembangan pendidikan islam tentunya tidak bisa lepas dari peradaban islam jawa. Islam jawa menjadi tempat lahirnya sistem pendidikan islam yaitu pondok pesantren. Perkembangan pendidikan islam yang semakin pesat tidak bisa dilepaskan dari kontribusi nyata peran alumni pondok pesantren. Di Kabupaten Jember perkembangan pendidikan islam mencapai 1.193 lembaga yang menjadikan kabupaten nomor dua dengan jumlah lembaga terbanyak se Jawa Timur. Capaian ini tidak lepas dari peran salah satu organisasi alumni di kabupaten Jember yaitu IKSASS. Terdapat istilah Moro’ dalam IKSASS yang menjadi nilai dalam memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemaknaan moro’ pada alumni pondok pesantren dalam pengembangan pendidikan islam di Jember.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori makna dari George Herbert Mead. Interaksi sosial merupakan komunikasi antar simbol-simbol bermakna. Simbol bermakna merupakan gestur yang menjadi stimulus individu lain untuk memberikan tindakan dalam suatu interaksi sosial. Sebuah simbol dapat dikatakan bermakna apabila bisa menjadi stimulus individu lain untuk memberikan respon terhadap gestur individu pertama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan ethnografi. Pendekatan ethnografi dipilih karena penelitian ini membahas soal simbol atau nilai dari suatu kelompok tertentu, yang mana topik tersebut lebih cocok diteliti menggunakan pendekatan ethnografi.
Temuan dalam penelitian ini adalah bagaimana pemaknaan moro’ pada alumni pondok pesantren memiliki kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di Jember. Hal ini bisa terjadi karena moro’ menjadi tradisi atau kebiasaan secara turun temurun yang mengharuskan alumni pondok pesantren untuk mengajar. Seiring perkembangan zaman nilai Moro’ terus mengalami perkembangan. Moro’ yang semula merupakan dawuh dari KHR. As’ad Syamsul Arifin menjadi latar belakang munculnya Lima Wasiat dan slogan Mondhuk Entar Ngabdih Ben Ngajih (Niat mondok untuk mengabdi dan mengaji) yang keduanya memiliki kesinambungan dalam menentukan penerapan sistem pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Nilai Moro’ juga menjadi salah satu tujuan IKSASS, Sehingga penerapan Nilai Moro’ tidak hanya diterapkan selama alumni masih menjadi santri aktif melainkan di kehidupan sehari hari yang membentuk karakter jati diri mereka.
Dalam proses implementasinya pemaknaan Moro’ mengalami pergeseran makna yang disebabkan oleh kondisi, situasi dan dinamika sosial yang terjadi disekitar alumni. Moro’ yang semula dimaknai sebagai mengajar kini lebih fleksibel dalam pengimplementasiannya yaitu sebagai fasilitator lembaga pendidikan. Sehingga para alumni pondok pesantren yang tidak memiliki kemampuan untuk mengajar atau bekerja dibidang pendidikan islam masih memiliki kesempatan untuk mengimplementasikan Moro’ dengan memberikan bantuan atau dukungan dalam pengembangan pendidikan Islam. Dalam konteks ini terdapat dua karakter dalam diri Alumni yaitu alumni sebagai pengajar dalam Pendidikan Islam dan Alumni sebagai fasilitator dalam Pendidikan Islam. Dalam konsep Mead diri dibagi menjadi dua yaitu ”I” dan ”Me”. Karakter alumni sebagai pengajar merupakan ”Me” dari alumni pondok pesantren karena mengajar merupakan jati diri asli dari anggota IKSASS. Sedangkan karakter alumni sebagai fasilitator merupakan wujud ”I” dari alumni pondok pesantren karena dipengaruhi oleh kondisi luar individu alumni seperti dinamika sosial, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan mereka untuk mengajar. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh anggota IKSASS adalah kegiatan kajian keislaman dan pendirian lembaga pendidikan Islam yaitu madrasah diniyah.
Description
Reuploud file repositori 19 Mei 2026_(Aurora)_Firli
Approved by Teddy
