Keragaman Senyawa Metabolit Sekunder Dan Aktivitas Antioksidan Tumbuhan Paku Cyclosorus parasiticus (L.) Farw Asal Kawasan Gunung Gumitir Pada Musim Yang Berbeda
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakukutas Mematika
Abstract
Cyclosorus parasiticus merupakan tumbuhan paku khas yang tumbuh di kawasan Gunung Gumitir, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan dikenal memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen farmakologis, terutama antioksidan. Kandungan senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk perbedaan musim. Metabolit sekunder pada paku dapat berbeda-beda kadar dan jenisnya bergantung pada kondisi abiotik yang ada saat tumbuhan tersebut tumbuh. Kondisi cekaman abiotik contohnya adalah tinggi rendahnya temperature, kekeringan, polusi, kekurangan nutrisi, dan juga intensitas cahaya matahari yang diterima. Perubahan faktor eksternal dapat menyebabkan stres pada tumbuhan, pada kondisi ini proses fotosintesis terganggu akibat kerusakan fotosistem II, sintesis ATP, dan produksi spesies oksigen reaktif (ROS), dimana akibatnya adalah peningkatan kadar metabolit sekunder yang disintesis oleh tumbuhan sebagai respon untuk melawan senyawa ROS dengan mekanisme sebagai antioksidan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variasi senyawa bioaktif dalam ekstrak etanol daun C. parasiticus yang dikoleksi pada dua musim berbeda, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Penelitian ini diawali dengan pengambilan sampel C. parasiticus di kawasan Hutan Pinus Gunung Gumitir kemudian dibudidayakan dan ditanam di kebun botani FMIPA Universitas Jember. Proses ekstraksi yang dilakukan menggunakan metode maserasi dan nitrogen cair. Hasil ekstraksi dari metode maserasi dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, sementara ekstraksi menggunakan nitrogen cair digunakan untuk uji keragaman senyawa metabolit sekunder instrumen Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Untuk
viii
mengidentifikasi kandungan metabolit berdasarkan waktu retensi, persentase area puncak kromatogram, dan pencocokan spektrum massa. Selain itu, aktivitas antioksidan dari masing-masing ekstrak diuji menggunakan metode DPPH untuk menentukan nilai IC₅₀, sebagai indikator kekuatan aktivitas antioksidan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau, ditemukan lebih banyak variasi senyawa metabolit sekunder, meliputi 2 senyawa fenolik, 4 senyawa alkaloid, dan 1 flavonoid. Sementara pada musim hujan, hanya ditemukan 2 senyawa fenolik dan 1 senyawa flavonoid, tanpa terdeteksi alkaloid maupun terpenoid. Meski demikian, beberapa senyawa ditemukan pada kedua musim, seperti oxalic acid, 2TMS derivative dan 3,4-dihydroxymandelic acid, 4TMS derivative dari golongan flavonoid yang diketahui memiliki potensi aktivitas antioksidan.Uji aktivitas antioksidan menghasilkan nilai IC₅₀ sebesar 50,17 ppm untuk ekstrak musim kemarau (kategori kuat), dan 29,08 ppm untuk ekstrak musim hujan (kategori sangat kuat), sedangkan vitamin C sebagai kontrol memiliki nilai IC₅₀ sebesar 8,76 ppm. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah jenis metabolit sekunder lebih banyak ditemukan pada musim kemarau, ekstrak musim hujan menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa bukan hanya jumlah senyawa yang berpengaruh, tetapi juga kualitas atau efektivitas masing-masing senyawa terhadap aktivitas biologis tertentu.
Description
Reupload file repository 19 Februari 2026_Ratna
