Analisis Pengendalian Kualitas Produk Cerutu Pada Pt. Xy Jember dengan Pendekatan Statistic Quality Control (SQC) dan Failure Mode And Effect Analysis (FMEA)

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Abstract

Persaingan industri yang semakin ketat, khususnya di sektor makanan dan minuman, menuntut perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas produk dan mempertahankan keberlanjutan bisnis. Salah satu faktor utama dalam keberhasilan bisnis adalah kualitas produk yang ditawarkan kepada konsumen. Namun, dalam praktiknya, tidak dapat dihindari terjadinya produk cacat yang tidak sesuai dengan standar kualitas. Hal ini juga terjadi pada industri cerutu, di mana peningkatan jumlah produksi harus diimbangi dengan pengendalian kualitas yang baik agar produk yang dihasilkan tetap berkualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar. PT. XY Jember, sebagai produsen cerutu, menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas produk di tengah peningkatan jumlah produksi. Oleh karena itu, pengendalian kualitas sangat penting untuk memastikan konsistensi kualitas produk dan kepuasan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kecacatan produk cerutu dan mengusulkan langkah perbaikan menggunakan metode Statistical Quality Control (SQC) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Penelitian ini menggunakan metode action research dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara terstruktur di PT. XY Jember. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yang bersumber dari laporan produksi dan data cacat produk cerutu yang dihasilkan oleh perusahaan. Hasil penelitian berdasarkan analisis SQC menunjukkan bahwa produk cerutu yang mengalami cacat mencapai 102.694 batang, dengan persentase cacat sekitar 0,93% dari total produksi. Jenis cacat terbesar adalah PUJ (Pecah Ujung), PUT (Pecah Ujung Tengah), dan kesalahan linting, yang memberikan kontribusi kumulatif sebesar 68,62% dari seluruh produk cacat. Peta kendali (p-chart) menunjukkan beberapa titik produksi berada di luar batas kendali, yang menandakan adanya kebutuhan untuk peningkatan kontrol kualitas. Analisis fishbone diagram mengidentifikasi lima faktor utama penyebab kecacatan, yaitu mesin, bahan baku, sumber daya manusia, metode kerja dan lingkungan. Hasil analisis FMEA mengungkapkan bahwa masalah utama berasal dari jenis kecacatan PUT, PUJ, dan Kesalahan Linting dengan faktor penyebab kegagalan yang berasal dari faktor manusia akibat ketidakpatuhan terhadap SOP perusahaan. Nilai RPN yang didapatkan sebesar 216. Rekomendasi perbaikan yang diusulkan mencakup penguatan prosedur inspeksi bahan baku, perawatan mesin yang lebih rutin, serta peningkatan pelatihan tenaga kerja untuk memastikan konsistensi dan kualitas produksi cerutu yang lebih baik.

Description

Reupload file repositori 6 Feb 2026_Maya

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By