Uji Perbandingan Bahan Baku Briket terhadap Kualitas Briket Arang Shisha
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Saat ini kebutuhan energi didunia semakin meningkat, akan tetapi energi
dari fosil semakin menipis. Meningkatnya kebutuhan energi dipengaruhi oleh
perkembangan dan pertumbuhan jumlah penduduk dengan perubahan pola
konsumsi serta gaya hidup manusia. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun
2006 menyebutkan bahwa salah satu sumber energi alternatif yang cukup
menjanjikan dan potensinya paling besar di dunia adalah biomassa. Sebagai
negara agraris, Indonesia menghasilkan banyak limbah pertanian, seperti kulit
singkong, tongkol jagung, ampas tebu, sekam padi, dan tempurung kelapa, yang
belum dimanfaatkan dengan baik. Sejalan dengan itu, sangat penting untuk
mempertimbangkan memanfaatkan tempurung kelapa, serbuk gergaji kayu, ampas
tebu, dan tongkol jagung sebagai sumber energi alternatif untuk pembuatan briket
arang. Bahan dari biomassa tersebut banyak ditemukan dilingkungan sekitar dan
memiliki nilai kalor yang relatif cukup besar. Menurut Marchel et. al , nilai kalor
tempurung kelapa sekitar 6500 – 7.600 kal/g, tongkol jagung sebesar 3500 – 4500
kal/g, kayu jati rata-rata sebesar 5786 kal/g, dan ampas tebu sebesar 4375 kal/g.
Dari penelitian Haryati dan Amir mengatakan bahwa 83% bisnis kecil dan
menengah menginginkan briket yang tahan lama, tidak berbau , dan tidak berasap.
Pemeriksaan kualitas briket ketika digunakan terdapat tiga standarisasi, yakni
tahan lama, tidak berasap, dan tidak berbau. Ketika briket selesai digunakan, yaitu
terdapat sisa abu yang tertinggal. Adanya abu tersebut dapat menjadikan indikator
penilaian kualitas briket. Briket berkualitas tinggi tidak hanya dapat digunakan
sebagai sumber energi alternatif tetapi juga dapat digunakan sebagai bahan bakar
untuk shisha. Shisha adalah alat untuk menghisap tembakau yang terdiri dari
tembakau padat yang dibakar langsung oleh pembakar aktif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat yang dihasilkan dari
setiap bahan baku briket dan perbandingan dari setiap mutu briket. Jenis
penelitian yang digunakan ialah penelitian eksperimental menggunakan analisis
kuantitatif. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
perbandingan antara bahan baku yang digunakan diantaranya tempurung kelapa,
tongkol jagung, ampas tebu, dan kayu jati. Metode analisis yang digunakan adalah
analisis sidik ragam (Anova Analysis of Variance) atau analisis sidik ragam
digunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan pada tingkat kepercayaan α
= 0,05. Uji statistik tambahan untuk perlakuan nyata yang berbeda dilakukan
dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Metode Composite Performance
Index (CPI) digunakan untuk menentukan perlakuan terbaik.
Setiap bahan baku briket yang digunakan mempengaruhi sifat-sifat briket
yang dihasilkan seperti nilai kalor dari semua perlakuan berkisar antara 5268,51-
6009,20 kal/gr, kadar air berkisar antara 6,07-6,84%, kadar abu berkisar antara
5,69-13,76, zat terbang berkisar antara 78,54-87,87%, dan laju pembakaran
berkisar antara 0,0176-0,0191%. Dari hasil uji CPI (Composite Performance
Index), perbandingan mutu briket yang dihasilkan dari setiap perlakuan dengan
berbagai komposisi bahan baku terdapat perbedaan yang signifikan. Diperoleh
nilai CPI briket dengan komposisi dari yang terbaik hingga yang terendah secara
berurutan ialah pada perlakuan P1 yaitu sebesar 102,67, perlakuan P2 sebesar
93,72, perlakuan P3 sebesar 93,08, dan pada perlakuan P4 yaitu 86,37.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 26
