Estimasi Neraca Hara NPK dan Jejak Karbon Pada Beberapa Sistem Pertanian Di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo merupakan desa yang berada di sekitar gunung bromo. Masyarakat di wilayah tersebut sebagian besar memiliki matapencaharian sebagai petani. Sistem budidaya yang dilakukan oleh petani adalah system budidaya monokultur dan polikultur dengan mayoritas tanaman yang ditanam adalah bawang prei, kubis, dan sawi. Produktivitas tanaman menurun karena faktor kondisi lingkungan serta pemberian dosis pupuk yang diberikan petani tidak sesuai. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan penelitian terkait neraca hara dan jejak karbon yang dihasilkan saat proses budidaya tanaman pada beberapa sistem budidaya di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.
Penelitian dilakukan pada bulan juli hingga desember 2024 dengan menggunakan metode kuantitatif. Data primer yang digunakan berasal dari sampel tanah dan sampel jaringan tanaman, sedangkan Data sekunder berasal dari hasil wawancara. Penelitian ini memanfaatkan empat lahan berbeda yang mewakili kedua sistem budidaya tersebut, dengan variasi kelerengan, penggunaan pupuk, dan jenis tanaman. Analisis laboratorium dilakukan untuk mengukur sifat kimia tanah (pH, C-organik, N, P, K), kandungan hara dalam jaringan tanaman. Perhitungan neraca hara dilakukan dengan pendekatan NUTMON (NUTrient MONitoring). Jejak karbon dihitung berdasarkan data aktivitas penggunaan pupuk dan pestisida dan mencari emisi karbon yang dihasilkan. Perhitungan jejak karbon menggunakan pendekatan metode IPCC (2006), IPCC (2019), dan beberapa jurnal terkait.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa nilai pH pada semua lahan bernilai antara 7,45 – 7,90, sedangkan pH KCl antara 6,41 – 7,15. Kadar C-organik pada seluruh lahan memiliki nilai antara 0,57% – 1,44%. Serapan hara N, P, dan K pada setiap lahan berkisar antara Nitrogen (0,41 – 41,39 gr/tanaman), Fosfor (0,007 – 0,244 gr/tanaman), dan Kalium (0,11 – 3,95 gr/tanaman). Neraca hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium sebagian besar mengarah ke nilai positif karena nilai input lebih besar daripada output. Namun, neraca hara Fosfor dan Kalium pada lahan tumpangsari bawang prei dan kubis mengarah ke nilai negatif sehingga memerlukan penambahan hara melalui pemupukan. Selisih nilai input dengan output neraca hara Nitrogen terbesar yaitu terdapat pada lahan monokultur bawang prei dengan nilai 2144,86 kg N/ha. Sedangkan selisih nilai input dengan output neraca hara Fosfor dan Kalium terbesar yaitu terdapat pada lahan tumpangsari bawang prei dan sawi dengan nilai secara berurutan 64,78 kg P/ha, dan 166,64 kg K/ha.
Hasil jejak karbon pada lahan 1 (sistem budidaya polikultur tumpangsari bawang prei dan kubis) sebesar 0,62 -eq ton/ha, lahan 2 (sistem budidaya monokultur bawang prei) sebesar 1,29 -eq ton/ha, lahan 3 (sistem budidaya monokultur bawang prei) sebesar 1,02 -eq ton/ha, dan lahan 4 (sistem budidaya polikultur tumpangsari bawang prei dan sawi) sebesar 1,84 -eq ton/ha. Penerapan sistem tumpangsari di Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo cenderung lebih potensial dalam meningkatkan pemanfaatan unsur hara serta memperkuat penyimpanan karbon, sedangkan lahan monokultur membutuhkan pengelolaan pemupukan dan konservasi tanah yang lebih baik agar menekan kehilangan hara dan dapat menekan emisi karbon tetap rendah.
Description
Reupload file repository 13 April 2026_Ratna
