Flexing Sebagai Artikulasi Identitas Mahasiswa Generasi Z DI Instagram
| dc.contributor.author | Evayanti Yuliana Putri | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-11T02:18:27Z | |
| dc.date.issued | 2024-07-03 | |
| dc.description | Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren | |
| dc.description.abstract | Flexing adalah wujud penggambaran perilaku individu yang berusaha memperlihatkan kemewahan, kekayaan, dan status sosial pada orang lain melalui media sosial. Sederhananya flexing adalah pamer di media sosial. Flexing sering dilakukan oleh Generasi Z di Instagram sebagai produk dari kebiasaan sehari-hari. Hal ini dikarenakan Generasi Z lahir dan besar bersamaan dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Penelitian mengenai flexing pernah diteliti sebelumnya, namun masih terbatas dalam substansinya. Pada penelitian sebelumnya, flexing dipandang sebagai tindakan negatif karena individu memiliki kecenderungan untuk diakui oleh publik dengan cara pamer di media sosial. Namun, pada penelitian ini flexing dipandang sebagai rekognisi yang perlu ditampilkan oleh Generasi Z untuk mendapatkan sekaligus menegaskan identitas sosial di media. Melalui flexing Generasi Z dapat menunjukkan aktivitas yang dilakukan setiap harinya di media, karena media sosial merupakan medium yang bersifat cair untuk membagikan konten. Penelitian ini menggunakan teori simulasi dan hiperrealitas oleh Jean Baudrillard. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis flexing sebagai fenomena di media sosial yang dapat membentuk artikulasi identitas bagi mahasiswa Generasi Z di Instagram. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan etnografi virtual oleh Christine Hine. Dalam pendekatan ini peneliti dan informan harus berada pada posisi yang simetris, di mana mereka harus berada dalam pola komunikasi yang sama terkait topik yang diteliti, mengenal dan memperkenalkan diri, dan konteks data yang dihasilkan bisa dipahami satu sama lain. Sumber data yang digunakan oleh peneliti yaitu data primer dan dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahap yaitu observasi non partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Jumlah informan dalam penelitian ini yaitu sebanyak delapan informan. Adapun kriteria nya ada tiga. Pertama, Generasi Z. Kedua, berusia 18-25 tahun. Ketiga, memiliki akun media sosial Instagram. Keempat, informan sering melakukan flexing di Instagram. Teknik keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu.nalisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dari penelitian ini yaitu flexing yang sering dilakukan Generasi Z terbagi menjadi tiga jenis, yaitu flexing gaya hidup, flexing prestasi, dan flexing hobi baru. Pada penelitian ini flexing tidak lagi dipandang sebagai hal yang negatif. Namun, flexing dipandang sebagai sesuatu yang harus ditampilkan sebagai wujud dari budaya populer. Budaya populer yang dimaksud adalah media sosial. Mereka melakukan flexing untuk menciptakan identitas sekaligus menegaskan identitas. Mereka bisa dengan mudah menciptakan identitas diri sesuai keinginannya, sehingga tidak ayal jika lahir fenomena identitas terbelah dan identitas ganda. Instagram yang serba sempurna dan tanpa cela ini pada gilirannya telah menampakkan tampilan fisik lebih penting daripada aslinya. Kondisi ini membuat Instagram menjadi pendorong bagi Generasi Z untuk menampilkan kesempurnaan pula. Tidak ayal jika kondisi ini membuat Generasi Z sering kali menampilkan fragmentasi tubuh yang palsu. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Dien Vidia Rosa, S.Sos., M.A. DPA: Adi Paramitha, S.Sos., M.Sos. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/2776 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | fakultas ilmu sosial dan ilmu politik | |
| dc.subject | flexing | |
| dc.subject | Generasi Z | |
| dc.title | Flexing Sebagai Artikulasi Identitas Mahasiswa Generasi Z DI Instagram | |
| dc.type | Other |
