Revolusi Fisik di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1948-1949
| dc.contributor.author | Mochammad Naufal Zhafran | |
| dc.date.accessioned | 2026-05-19T03:56:08Z | |
| dc.date.issued | 2026-04-14 | |
| dc.description | FINALISASI oleh Arif 2026 Mei 19 | |
| dc.description.abstract | Penelitian ini mengkaji permasalahan konflik politik dan kekerasan yang terjadi antara Indonesia dengan Belanda yang mewarnai pada masa Revolusi Fisik di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1948–1949. Revolusi fisik merupakan istilah untuk menyebut rentang periode Indonesia pada tahun 1945–1949 yang dicirikan dengan peran para pemuda terutama TNI yang dominan pada Masa Awal Kemerdekaan Indonesia. Kembalinya Belanda ke Indonesia menyebabkan terjadinya konflik politik juga disertai kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum jatuh, memaparkan peristiwa Agresi Militer Kedua Belanda dan dampaknya di bidang politik dan sosial ekonomi, dan menguraikan upaya yang dilakukan pihak RI dalam mempertahankan dan mengembalikan Ibu Kota Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi ruang lingkup penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sosiologi politik menurut Damsar dan teori konflik dari Ralf Dahrendorf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami berbagai dinamika peristiwa yang bersangkutan dengan konflik politik dan kekerasan antara Indonesia dengan Belanda. Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia kemudian berhasil jatuh ke tangan militer Belanda pada 19 Desember 1948. Jatuhnya Ibu Kota Yogyakarta menyebabkan berbagai dampak politik dan sosial ekonomi. Pada dampak sosial ekonomi, tentara Belanda secara membabibuta menjalankan aksi militernya, sehingga terjadi banyak kekerasan terhadap rakyat Yogyakarta, seperti penjarahan, perusakan, dan pembakaran rumah penduduk; penggedoran harta benda, hewan ternak, dan bahan makanan; hingga jatuhnya korban jiwa, luka, penculikan, dan pemerkosaan. Aksi-aksi militer Belanda tersebut ternyata juga dilakukan oleh pihak RI yang menyasar golongan Tionghoa di Yogyakarta. Hingga pengembalian Ibu Kota Yogyakarta ke pangkuan RI, konflik politik dan kekerasan tetap terjadi antara Indonesia dengan Belanda. Ibu Kota Yogyakarta kemudian berhasil diambil alih melalui perjuangan revolusi fisik dan jalur diplomasi internasional. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama: Drs. I G Krisnadi, M.Hum. Dosen Pembimbing Anggota: Dra. Dewi Salindri, M.Hum. Dosen Penguji Utama: Dr. Eko Crys Endrayadi, M.Hum. Dosen Penguji Anggota: Dr. Tri Chandra Aprianto, M.Hum. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/7445 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Daerah Istimewa Yogyakarta | |
| dc.subject | kekerasan | |
| dc.subject | konflik politik | |
| dc.subject | revolusi fisik | |
| dc.title | Revolusi Fisik di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1948-1949 | |
| dc.type | Other |
