Analisis Spasial dan Faktor Risiko Infeksi Entamoeba histolytica pada Balita Stunting di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Entamoeba histolytica merupakan parasit patogen pada manusia yang dapat
menyebabkan Amoebiasis. Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan
penyakit dysentery Amoeba. Apabila Amoebiasis terjadi pada 1000 hari pertama
kehidupan balita dan disertai dengan dysentery parah akan perlahan menyebabkan
malnutrisi. Terjadinya dysentery yang parah perlahan akan menyebabkan balita
kehilangan mikronutrien yang akan memicu terjadinya stunting. Stunting adalah
kegagalan pertumbahan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi
yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan usianya.
Infeksi Entamoeba histolytica pada stunting berpotensi menimbulkan masalah
kesehatan di kemudian hari. Analisis spasial dapat menghubungkan berbagai data
kesehatan pada titik lokasi tertentu, menggabungkan, menganalisis, dan akhirnya
memetakan hasil dari data kesehatan tersebut sesuai dengan prevalensi kesehatan
perlokasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil analisis spasial dan
faktor risiko yang berpotensi terjadinya infeksi Entamoeba histolytica pada balita
stunting di Kecamatan Panti. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional
yang dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 20230. Populasi pada
penelitian ini sebanyak 451 balita stunting. Untuk mencari jumlah minimal sample
digunakan rumus lameshow dan didapatkan 64 balita stunting sebagai sample
penelitian. Pengambilan sampel menggunakan teknik probabilty dengan metode
cluster sampling. Pada penelisian ini menggunakan uji uji indeks moran untuk
mengetahui autokorelasi antar wilayah terhadap infeksi Entamoeba histolytica.
Untuk mengetahui hubungan faktor risiko digunakan uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14,06% balita stunting mengalami
infeksi Entamoeba histolytica. Hasil indeks moran menunjukkan adanya
autokorelasi positif dan sebaran infeksi Entamoeba histolytica yang menunjukkan
clustered di Desa Panti dan Suci, sedangkan pada Desa Kemiri memiliki
autokorelasi spasial negatif dengan penyebaran yang acak. Untuk Desa Serut tidak
memiliki infeksi Entamoeba histolytica positif sehingga tidak dimasukkan
kedalam analisis spasial. Uji chi-square menunjukkan bahwa faktor risiko yang
berhubungan secara signifikan adalah tingkat pendidikan orang tua.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu risiko penularan infeksi Entamoeba
histolytica di Kecamatan Panti disebabkan karena kualitas sumber air dan tingkat
pendidikan orang tua dengan penyebaran spasialnya adalah berkolompok
didominasi Desa Panti dan Suci. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah
memperbanyak jumlah sampel dan wilayah yang lebih luas serta melibatkan lebih
banyak faktor, seperti pengaruh asupan gizi. Untuk pemerintah dapat mengadakan
penyuluhan tentang edukasi secara rutin mengenai sanitasi kepada orang tua
pemilik balita tentang penegahan penularan Amoebiasis. Bagi masyarakat,
diharapkan masyarakat bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar
mengurangi penyebaran infeksi Entamoeba histolytica.
Description
Reupload file repository 11 februari 2026_Arif/Halima
