Konservasi Hutan Mangrove Melalui Ekowisata Kampung Blekok Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo Tahun 2017-2020
| dc.contributor.author | Farid Bima Nugroho | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-11T07:16:40Z | |
| dc.date.issued | 2024-06-19 | |
| dc.description | Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren | |
| dc.description.abstract | Konservasi Hutan Mangrove Melalui Ekowisata Kampung Blekok Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo Tahun 2017-2020; Farid Bima Nugroho, Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya , Universitas Jember. Tulisan ini membahas Konservasi Hutan Mangrove Desa Klatakan Kampung Blekok Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo tahun 2017-2020. Permasalahan yang dikaji pembahasan ini meliputi bagaimana kondisi ekologi kawasan hutan mangrove Kampung Blekok sebelum menjadi tempat konservasi di Kabupaten Situbondo, bagaimana proses perkembangan awal obyek wisata Kampung Blekok di Kabupaten Situbondo, bagaimana terbentuknya obyek wisata Kampung Blekok dan bagaimana dampak obyek wisata Kampung Blekok pada masyarakat Desa Klatakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu pemilihan topic, heuristic, kritik verifikasi, analisis, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekologi dan menerapkan teori ekowisata Ekologi merupakan salah satu komponen sistem manajemen lingkungan yang harus diperiksa bersama dengan komponen lain untuk membuat keputusan yang seimbang. Pendekatan ekologi adalah pendekatan yang mempelajari hubungan antara organisme, terutama manusia, dan lingkungannya. Oleh karena itu, masalah lingkungan pada hakikatnya adalah masalah ekologi. Selanjutnya, penerapan ekologi pariwisata juga terkait dengan desain perlindungan mangrove di Desa Blekok. Pendekatan ekowisata merupakan pendekatan di mana terdapat industri yang kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kualitas lingkungan. Pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep ekologi dapat meningkatkan kesadaran akan upaya untuk melaksanakan tindakan konservasi. Kegiatan konservasi juga dapat dimanfaatkan untuk pemanfaatan sumber daya alam secara rasional dengan memperhatikan kebutuhan estetika dan ekowisata serta menjaga kualitas lingkungan Teori yang digunakan dalam karya ini menggunakan teori ekowisata. Menurut Fandeli, ekowisata dimaksudkan sebagai kegiatan yang memperbaiki kerusakan hutan dan mendorong masyarakat untuk kembali melestarikan hutan. Kawasan hutan yang dikelola dengan professional dan berpola standar, maka pengelolaannya akan berhasil bila dikembangkan sebagai obyek daya tarik wisata alam. Beberapa teori yang relevan untuk memperkuat analisis tentang ekowisata Kampung Blekok, yaitu definisi ekowisata menurut Ceballos-Lascurain yang mendefinisikan ekowisata sebagai perjalanan ke daerah yang lingkungan alamnya belum tercemar, dengan tujuan untuk mengeksplorasi, mengapresiasi dan menikmati pemandangan alam, flora dan fauna, serta ekspresi budaya kontemporer. Berbeda dengan pendapat tersebut, organisasi The Ecotourism Society mendeskripsikan bahwa Ekowisata adalah bentuk pariwisata di kawasan alam yang bertujuan untuk melindungi lingkungan dan menjaga mata pencaharian dan kesejahteraan penduduk setempat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Obyek Wisata Kampung Blekok sebelum berdiri merupakan kawasan pemukiman warga yang memiliki lokasi sangat kumuh , yaitu tepatnya di Dusun Pesisir Timur Desa Klatakan Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo tepatnya pada tahun 2010-2016 , pada tahun tersebut kawasan Kampung Blekok merupakan pemukiman warga biasa yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah Kabupaten Situbondo sehingga kawasan tersebut menjadi kawasan kumuh dan menjadi tempat pembuangan sampah dan pembuangan kotoran ternak warga , masyarakat sangat minim sekali edukasi terkait pelestarian lingkungan dan menjaga agar lingkungan sekitar bisa menjadi tempat berlindung warga dipesisir pantai karena adanya potensi ditempat tersebut. Obyek Wisata Kampung Blekok memiliki potensi dimana mangrove di kawasan tersebut tumbuh dengan lebat tanpa adanya penanaman dari warga sekitar , dan mangrove tersebut menjadi tempat berlindungnya burung" blekok yang dimana dikawasan pantai lain yang memiliki pohon mangrove tidak memiliki fauna untuk tinggal dimangrove tersebut berbeda dengan mangrove di Kampung Blekok , maka dari itu kawasan ini menjadi salah satu obyek yang diperhatikan oleh pemerintah untuk dijadikan kawasan konservasi dan obyek wisata , selain untuk menjaga lingkungan agar tetap indah dan lestari juga dimanfaatkan sebagai tempat mencari nafkah bagi warga sekitar daerah Kampung Blekok . Kawasan Kampung Blekok setelah di jadikan kawasan konservasi dan obyek wisata , sangat berdampak bagi warga sekitar , banyak dari warga yang sebelumnya hanya bermata pencaharian sebagai nelayan mereka berubah haluan menjadi pengrajin kerajinan yang terbuat dari kerang dan juga kayu dan dijual kepada wisatawan asing dan lokal yang berkunjung dan secara langsung membantu perekonomian warga sekitar semakin baik dan lebih berkembang . Dampak dari mangrove juga sangat banyak yang pada awalnya air laut masuk ke pemukiman warga dan menyebabkam banjir rob setelah mendapatkan edukasi dan adanya kegiatan penanaman mangrove menjadikan air laut aman dan tidak memasuki pemukiman rumah warga hinga dari tahun 2017-2020 Warga sangat merasakan akan dampak lingkungan dan ekonomi yang berangsur membaik. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Drs. IG Krisnadi, M. Hum., DPA: Dewi Salindri, M.Si, | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/2933 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | fakultas ilmu budaya | |
| dc.subject | Hutan Mangrove | |
| dc.subject | Blekok Kecamatan Kendit | |
| dc.title | Konservasi Hutan Mangrove Melalui Ekowisata Kampung Blekok Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo Tahun 2017-2020 | |
| dc.type | Other |
