Pra-Rancangan Pabrik Biobutanol Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Melalui Metode Fermentasi Ekstraktif Dengan Kapasitas 24.000 Ton/tahun

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Teknik

Abstract

Butanol (C₄H₉OH) merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan dalam berbagai industri, seperti produksi karet sintetis, pelarut kosmetik, cairan hidrolik, obat-obatan, deterjen, dan ekstraksi farmasi. Selain itu, butanol berpotensi sebagai biofuel alternatif yang efisien. Permintaan global terhadap butanol terus meningkat, namun kapasitas produksi saat ini masih terbatas karena tingginya harga bahan baku konvensional serta kompleksitas proses produksinya. PT Petro Oxo Nusantara satu satunya sebagai produsen butanol di Indonesia memiliki kapasitas yang relatif kecil yaitu 551.156 ton/tahun yang belum memenuhi kebutuhan nasional. Untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah, pengembangan pabrik biobutanol berbasis Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai bahan baku biomassa alternatif yang murah dan melimpah sangat diperlukan dan menjadi solusi strategis. Pabrik Biobutanol berbahan baku Tandan Kosong Kelapa Sawit ini dirancang dengan kapasitas 24.000 ton/tahun dan waktu operasi 330 hari/tahun menggunakan proses fermentasi ekstraktif untuk meningkatkan konsentrasi produk akhir. Pabrik direncanakan akan didirikan di daerah Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau Pabrik ini dalam kapasitasnya per jam dapat menghasilkan 3.030,30 kg biobutanol sebagai produk utama dengan kemurnian (99,5%) dan 1.107,03 kg Aseton dengan kemurnian (98,65%) sebagai produk samping dengan bahan baku yang dibutuhkan sebesar 58.300 ton glukosa/tahun atau 297.186 ton TKKS/tahun. Tandan Kosong Kelapa Sawit dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia serta memiliki kandungan selulosa yang tinggi berkisar 43-46%. Berdasarkan analisis ekspor, impor, dan konsumsi butanol, ditemukan bahwa kapasitas pabrik yang direncanakan sebesar 24.000 ton/tahun. Pada prarancangan pabrik ini, biobutanol diproduksi melalui 6 tahapan proses, yaitu persiapan bahan baku, pretreatment, delignifikasi, hidrolisis enzimatik, fermentasi ABE (fed-batch), dan pemisahan ABE (distilasi). Utilitas pabrik mencakup penyediaan air, steam, tenaga listrik, bahan bakar, dan pengolahan limbah. Bentuk perusahaan yang direncanakan pada pra-rancangan pabrik biobutanol ini adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan menerapkan struktur organisasi berbentuk line and staff. Jumlah karyawan yang dibutuhkan sebanyak 188 orang. Hasil analisis evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa layak dengan Pay Out Time (POT) sebesar 2,78 tahun, Net Present Value (NPOTLP) sebesar Rp 5.315.658.888.187, Total Capital Sick (TCS) sebesar Rp 1.713.029.793.175, dan Break-Even Point (BEP) sebesar 41,2%. Dengan demikian, pendirian pabrik biobutanol ini diharapkan dapat mengatasi ketergantungan impor butanol di Indonesia serta memenuhi kebutuhan industri lainnya.

Description

Reupload File Repositori 11 Februari 2026_Teddy/Hendra

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By