Minyak Dan Ekspansi Jalur Trem Uap di Karesidenan Rembang, 1896-1942

dc.contributor.authorAlvian Hamzah
dc.date.accessioned2026-07-29T06:28:07Z
dc.date.issued2026-06-26
dc.descriptionValidasi dan Finalisasi Repositori File 29 Juli 2026_Kholif Basri
dc.description.abstractPenelitian ini membahas pembangunan dan pengoperasian jalur trem uap Rembang-Blora-Cepu pada tahun 1896-1942 yang berkaitan erat dengan perkembangan industri minyak bumi dan eksploitasi sumber daya alam di Karesidenan Rembang. Sebelum adanya jalur trem, pengangkutan hasil bumi dari pedalaman ke pelabuhan hanya mengandalkan jalur darat dan sungai yang tidak efisien, sehingga menghambat distribusi komoditas seperti kayu jati dan minyak bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang pembangunan jalur trem, menganalisis tantangan yang dihadapi selama proses pembangunan dan pengoperasiannya, serta mengkaji dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian terdiri atas arsip kolonial, laporan perusahaan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (S.J.S), staatsblad, serta berbagai literatur pendukung. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial ekonomi dan teori teknologi transportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan jalur trem dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerintah kolonial dan perusahaan swasta untuk memperlancar distribusi minyak bumi dari Cepu dan kayu jati dari Blora menuju pelabuhan Rembang. Peran perusahaan swasta Eropa seperti D.P.M maupun B.P.M sangatlah penting, karena dengan adanya sumber minyak tersebut memberikan dampak yang sangat luas. Dalam pelaksanaannya, pembangunan menghadapi berbagai kendala seperti pembebasan lahan, kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur, serta tingginya biaya konstruksi dan pemeliharaan. Keberadaan jalur trem memberikan dampak positif berupa meningkatnya mobilitas penduduk, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Namun di sisi lain, kehadiran industri minyak dan trem memicu resistensi sosial berupa Gerakan Samin dan pemogokan buruh VSTP pada tahun 1923 sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi kolonial. Pada akhir masa kolonial, jalur trem juga berfungsi sebagai sarana logistik militer sebelum strategi bumi hangus menghancurkan kilang minyak Cepu pada tahun 1942.
dc.description.sponsorshipDPU: Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D
dc.identifier.otherKholif Basri
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12378
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Ilmu Budaya
dc.subjectTrem uap
dc.subjectSamarang–Joana Stoomtram Maatschappij
dc.subjectKaresidenan Rembang
dc.subjectD.P.M
dc.subjectB.P.M.
dc.titleMinyak Dan Ekspansi Jalur Trem Uap di Karesidenan Rembang, 1896-1942
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Alvian Hamzah_Repository.pdf
Size:
2.51 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description:

Collections