Hubungan Riwayat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan pada Keluarga DI Wilayah Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas keperawatan
Abstract
Stunting saat ini tetap menjadi permasalahan kesehatan pada lingkup global
yang harus segera diatasi oleh seluruh dunia. Kabupaten Jember saat ini menjadi
salah satu daerah dengan prevalensi yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Timur.
Stunting menjadi suatu masalah karena berkaitan dengan peningkatan kerentanan
terserang penyakit, kematian, dan pertumbuhan keterampilan motorik balita serta
pertumbuhan mental balita yang terhambat. Penyakit infeksi menjadi salah satu
faktor penyebab kejadian stunting, salah satunya adalah Infeksi Saluran Pernapasan
Akut (ISPA). Penelitian ini merupakan penelitian case control retrospektif yang
dilakukan pada keluarga yang memiliki balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja
Puskesmas Rambipuji, Ledokombo, dan Sumberjambe. Sampel pada penelitian
berjumlah 150 keluarga yang dipilih secara acak menggunakan stratifies random
sampling. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan pengukuran
melakukan pengisian kuesioner karakteristik demografi, buku KIA, dan tinggi
badan balita menggunakan microtoise serta berat badan balita menggunakan
timbangan digital. Analisis inferensial yang digunakan pada penelitian ini adalah
uji statistic Chi-square.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan rata-rata usia balita di wilayah kerja
Puskesmas Rambipuji, Ledokombo, dan Sumberjambe dengan kondisi stunting 42
bulan dan 40 bulan untuk balita normal. Selanjutnya, pada kelompok kasus
diketahui sebanyak 55 balita (73,3%) memiliki riwayat ISPA, sedangkan pada
kelompok kontrol sebanyak 37 balita (49,3%) tidak memiliki riwayat ISPA.
Seluruh balita pada kelompok kasus termasuk dalam kategori stunting menurut
indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). sedangankan seluruh balita dalamkelompok kontrol termasuk dalam kategori normal. Hasil uji Chi square
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat ISPA
dengan kejadian stunting dengan p-value =0,004 (OR = 2,678 ; 95% CI = 1,352 –
5,303). Balita dengan riwayat ISPA memiliki 2,678 kali lipat peluang lebih besar
mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang tidak memiliki riwayat ISPA.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 73,3% balita stunting memiliki
riwayat ISPA. Selain itu, sebanyak 49,3% balita tidak memiliki riwayat ISPA dan
termasuk dalam kategori status nutrisi yang baik berdasarkan kategori TB/U. Hal
ini mendukung pernyataan bahwa riwayat ISPA merupakan salah satu faktor risiko
yang dapat memengaruji terjadinya stunting pada balita. Keluarga memegang peran
penting dalam pencegahan stunting karena riwayat ISPA. Anggota keluarga harus
paham tentang penyakit ISPA dan stunting pada Balita. Peningkatan pengetahuan
keluarga tentang ISPA sebagai upaya pencegahan kejadian stunting pada anak
balita dan cara perawatan di rumah. Oleh karena itu, apabila keluarga dapat
melakukan pencegahan dan penanganan yang baik terhadap ISPA, maka hal
tersebut dapat menjadi salah satu strategi dalam mencegah dampak jangka Panjang
ISPA yaitu stunting.
Description
Reupload file repository 3 februari 2026_agus/feren
