Hubungan Antara Faktor Predisposing, Enabling, dan Reinforcing dengan Perilaku Merokok Santri serta Identifikasi Kesiapan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di Pondok Pesantren Kabupaten Jember
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Perilaku merokok pada santri masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor individu, lingkungan, dan penguatan sosial. Selain itu, implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di pondok pesantren belum berjalan optimal sehingga diperlukan kajian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok sekaligus kesiapan penerapan KTR. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor predisposing, enabling, dan reinforcing dengan perilaku merokok santri serta mengidentifikasi kesiapan penerapan Kawasan Tanpa Rokok di pondok pesantren Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 392 santri yang dipilih menggunakan teknik stratified cluster sampling dan simple random sampling, serta 10 figur otoritas pesantren yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 221 responden (53,4%) merupakan perokok dengan mayoritas termasuk kategori perokok ringan (49,7%) dan rata-rata usia mulai merokok 13,2 tahun. Faktor predisposing (p<0,001), enabling (p=0,004), dan reinforcing (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan perilaku merokok santri. Sebagian besar pondok pesantren berada pada kategori siap dalam penerapan Kawasan Tanpa Rokok (60,0%). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kepercayaan dan keyakinan terhadap rokok dan Kawasan Tanpa Rokok merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku merokok santri (p=0,001; OR=0,401; 95%CI=0,228–0,703), diikuti oleh pengaruh teman sebaya (p=0,035; OR=0,531; 95%CI=0,294–0,957). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor predisposing, enabling, dan reinforcing berhubungan dengan perilaku merokok santri. Penguatan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok melalui edukasi kesehatan, pemberdayaan peer educator, penguatan regulasi internal pesantren, dan keteladanan figur otoritas diperlukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pondok pesantren yang sehat dan bebas asap rokok.
Description
Validasi file repositori 27 Juli 2026_Firli
