Profil Metakognisi Siswa Matthayom Dan SMA Dalam Menyelesaikan Soal Pisa Shape And Space Content Ditinjau Dari Level Van Hiele

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui profil metakognisi siswa matthayom dan SMA level visualisasi, analisis dan deduksi informal dalam menyelesaikan soal PISA shape and space content. Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan memiliki pemahaman tentang proses perubahan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam upaya untuk menjadi manusia dewasa melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses ekspansi dan cara mendidik. Matematika adalah salah satu mata pelajaran penting dalam pendidikan. Sebagai buktinya, matematika diajarkan di setiap tingkat pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Matematika adalah elemen penting dalam kehidupan kita, jadi belajar matematika sangat diperlukan. Komunikasi baik dalam bahasa lisan maupun tulisan sangat penting bagi siswa untuk memenuhi standar baru (Wilkinson, 2019). Meta-kognitif penting untuk dimiliki oleh setiap siswa karena melalui meta-kognitif, para siswa dapat mengekspresikan ide-ide berpikir secara verbal dan tertulis yang terdapat dalam menyelesaikan masalah matematika. Metakognitif siswa dapat berubah dalam pelajaran ini (Kesici, Erdogan, & Özteke, 2011). Hasil tes dan survei PISA pada tahun 2015 melibatkan 540.000 siswa di 70 negara. Dari hasil tes dan evaluasi PISA 2015, kinerja siswa Indonesia masih relatif rendah. Program for International School Assessment (PISA) diadakan setiap tiga tahun pada akhir pendidikan menengah bawah (Wagner, Hahn, Schöps, Ihme, & Köller, 2018). Skor rata-rata berturut-turut dari prestasi siswa Indonesia untuk sains, membaca dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara dievaluasi. Dalam pembelajaran geometri, pemikiran kritis dan penalaran diperlukan, serta kemampuan abstraksi yang logis. Pada dasarnya, materi geometri akan mudah dipahami oleh siswa dibandingkan dengan cabang matematika lainnya. (E. Yudianto et al., 2018). Ada perbedaan karakteristik proses metakognisi pada siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah dalam memecahkan masalah matematika (Purnomo, Suryadi, & Darwis, 2016). Metakognisi geometri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan proses berpikir mereka dalam mengamati berdasarkan pada tingkat pemikiran geometris (Sinclair & Moss, 2012). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan karena penelitian ini menggambarkan atau menjelaskan variabel yang diteliti, yaitu tingkat van Hiele dan Metakognisi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata yang disajikan dalam kalimat atau non-numerik. Deskripsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah profil metakognisi matthayom dan siswa sekolah menengah dalam memecahkan pertanyaan PISA dalam bentuk dan isi ruang dalam hal tingkat van Hiele. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4 Sekolah Streesmutprakan dan siswa kelas X SMAN Kencong. Dalam penelitian ini, subjek yang dipilih adalah siswa Sekolah Matthayom 3 Streesmutprakan, Thailand dan siswa SMA kelas X Kencong, Jember. Berdasarkan hasil dan diskusi, ada pengembangan karakteristik siswa berdasarkan kriteria tahap pemikiran geometri van Hiele pada aspek metakognisi dalam proses perencanaan, pemantauan dan evaluasi. Diperoleh bahwa subjek SS1 dan SM1 mencapai 50% indikator pada tahap visualisasi dan 66,67% pada indikator metakognisi. SS2 dan SM2 mencapai 66,67% dari indikator pada tahap analisis dan SS2 pada indikator metakognisi yaitu 66,67% dan untuk SM2 adalah 83%. SS3 dan SM3 mencapai 50% dari indikator deduksi informal dan 66,67% dari indikator metakognisi. Karakteristik proses metakognisi siswa dengan tahap visualisasi berpikir mulai dari mengidentifikasi bentuk geometris, memanipulasi seluruh bentuk, mendefinisikan dugaan melalui atribut yang digunakan, dan penamaan bentuk geometris. Siswa juga melakukan pemantauan yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Pemantauan yang dilakukan difokuskan pada kegiatan observasi masalah. Siswa pada tahap berpikir analitis memiliki karakteristik proses metakognisi yang lengkap dan siswa telah menunjukkan kemampuan metakognisi yang sesuai dengan indicator tahap metakognisi siswa.

Description

Reupload Repositori File 05 Mei 2026_Kholif Basri Finalisasi Repositori File 12 Mei 2026_Kurnadi

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By