Pengaruh Anggaran Hijau Terhadap Penurunan Emisi Karbon DI Indonesia
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Abstract
Sejak tahun 2005, Pemerintah Indonesia secara konsisten meningkatkan alokasi
Anggaran Lingkungan Hidup (ALH) setiap tahunnya dengan tujuan utama untuk
memitigasi pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Meskipun anggaran tersebut
terus meningkat, realitasnya menunjukkan bahwa kenaikan emisi karbon juga terjadi
secara bersamaan. Kemudian terdapat peningkatan signifikan anggaran lingkungan
hidup dari 1,3 triliun Rupiah pada tahun 2005 menjadi 13 triliun Rupiah pada tahun
2020. Selama periode yang sama, konsumsi energi terbarukan mengalami penurunan
sebesar 52 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengembangan dan
pemanfaatan anggaran lingkungan hidup di Indonesia belum optimal, terhambat oleh
berbagai kendala seperti kurangnya insentif, regulasi, infrastruktur, teknologi, dan
kesadaran masyarakat. Penelitian ini juga mencatat hasil yang menunjukkan bahwa
upaya pemerintah dalam menghadapi tantangan lingkungan masih belum sepenuhnya
berhasil. Mengacu pada penelitian Valdivia de Richter, kasus kerusakan lingkungan di
Meksiko pada tahun 2011 menjadi perhatian, dengan kerugian mencapai 5 persen dari
Produk Domestik Bruto (PDB). Penelitian ini menyoroti efek negatif polusi udara
terhadap kesehatan dan penggunaan berlebihan sumber daya alam yang merugikan
kelestariannya. Subsidi dan harga yang tidak mempertimbangkan dampak lingkungan
disebut sebagai beban besar bagi anggaran pemerintah, tidak efektif dalam mengurangi
kemiskinan, dan meningkatkan ketimpangan.
Dalam konteks ini, kesadaran akan perlindungan lingkungan semakin meningkat,
mengarah pada perlunya memasukkan aspek lingkungan dalam kebijakan ekonomi.
Teori pertumbuhan Keynes (1936) menekankan keterkaitan antara konsumsi individu
dalam perekonomian dan pendapatan individu lain, mendukung ide bahwa aktivitas
ekonomi harus mempertimbangkan dampak lingkungan. Dalam penelitian ini juga
membahas implementasi Efisiensi Fiskal Hijau (EFR) sebagai instrumen kebijakan
untuk internalisasi biaya sosial dan lingkungan negatif. EFR diharapkan dapat menggeser beban pajak dari aktivitas merugikan lingkungan ke aktivitas yang
mendukung pertumbuhan hijau. Upaya ini diarahkan untuk mencapai tujuan
lingkungan, seperti pengurangan emisi gas rumah kaca dan perlindungan
keanekaragaman hayati. Dengan mengintegrasikan konsep EFR, pemerintah dapat
mengurangi ketergantungan pada pendapatan tidak berkelanjutan, seperti ekspor
minyak dan gas. Kebijakan fiskal hijau menjadi kunci dalam mendukung ekonomi
yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Beberapa negara, termasuk Indonesia, telah
mengalokasikan anggaran belanja pemerintah untuk proyek-proyek yang mendukung
perlindungan lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.
Emisi karbon di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan
ekonomi, struktur industri, dan urbanisasi. Faktor-faktor seperti kebijakan ekspansif,
efisiensi energi, dan kebijakan lingkungan memainkan peran penting dalam dinamika
emisi karbon. Anggaran lingkungan hidup, konsumsi energi terbarukan, dan subsidi
BBM fluktuatif, dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, dan
kesadaran masyarakat. Faktor-faktor ini, bersama dengan peran kebijakan fiskal,
struktur industri, dan teknologi bersih, menjadi faktor utama yang mempengaruhi
tantangan pengurangan emisi karbon di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa anggaran lingkungan hidup (ALH) tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap emisi karbon, sejalan dengan teori
Environmental Kuznetz Curve (EKC) dan temuan penelitian sebelumnya. Kendati
ALH yang rendah belum memberikan dampak yang signifikan, peran konsumsi energi
terbarukan (REC) terbukti penting dalam mengurangi emisi karbon, sesuai dengan teori
pertumbuhan endogen. Subsidi BBM (ES) mempengaruhi peningkatan emisi karbon,
menunjukkan perlunya kebijakan mendukung transisi energi yang ramah lingkungan.
Oleh karena itu, untuk mengurangi intensitas karbon di Indonesia, disarankan untuk
fokus pada penerapan kebijakan fiskal hijau yang lebih progresif, termasuk
pengurangan subsidi bahan bakar fosil dan alokasi anggaran yang lebih signifikan
untuk perlindungan lingkungan.
Description
Reupload file repository 10 februari 2026_agus/feren
