Hubungan Praktik Pemberian ASI dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Permasalahan kekurangan gizi, khususnya stunting pada anak, masih
menjadi perhatian utama dalam bidang kesehatan masyarakat global. Praktik
pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang tidak optimal, seperti keterlambatan inisiasi
menyusu dini (IMD), ASI non-eksklusif, dan penghentian ASI terlalu dini, dapat
menyebabkan defisit gizi kronis yang menghambat pertumbuhan fisik balita. Dalam
teori keperawatan keluarga oleh Friedman (2010), fungsi perawatan kesehatan
keluarga sangat penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar pencegahan
stunting terlaksana secara optimal. Peranan keluarga dalam periode pertumbuhan
anak secara fisik menjadi krusial, termasuk dalam memastikan kecukupan gizi
melalui praktik menyusui yang benar.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktik pemberian
ASI dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Jember.
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan
pendekatan case-control. Pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup dua
komponen utama, yaitu informasi mengenai riwayat praktik pemberian ASI (IMD,
ASI eksklusif, dan ASI lanjutan) diperoleh melalui pengisian kuesioner yang
dilakukan dengan pendampingan peneliti, serta dikonfirmasi menggunakan Buku
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) apabila tersedia, dan data antropometri yang
dikumpulkan melalui pengukuran langsung tinggi badan dan berat badan balita
menggunakan microtoise dan timbangan injak digital. Hasil pengukuran dianalisis
menggunakan perangkat lunak WHO-Anthro untuk menentukan status gizi balita.
Sampel penelitian berjumlah 174 ibu dan balita, yang terbagi menjadi 87 balita
stunting (kelompok case) dan 87 balita tidak stunting (kelompok control) di
wilayah kerja Puskesmas Rambipuji, Puskesmas Sumberjambe, dan Puskesmas Ledokombo Kabupaten Jember. Teknik pengambilan sampel menggunakan
stratified random sampling. Penelitian ini telah melalui uji etik oleh Komite Etik
Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Keperawatan Universitas Jember dengan
No. 338/UN25.1.14/KEPK/2025, dan seluruh responden telah memberikan
informed consent sebelum pengumpulan data dilakukan. Analisis dalam penelitian
ini menggunakan uji statistik Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pemberian ASI pada
kelompok case lebih banyak yang tidak optimal dibandingkan kelompok control.
Balita stunting lebih banyak yang tidak mendapatkan IMD (32,18% dibandingkan
17,24% pada kelompok control), tidak ASI eksklusif (44,83% dibandingkan
24,14% pada kelompok control), dan tidak ASI lanjutan (51,72% dibandingkan
29,89% pada kelompok control). Analisis pada dua variabel menunjukkan terdapat
hubungan yang signifikan antara praktik pemberian ASI dengan kejadian stunting
pada balita usia 24-59 bulan di Kabupaten Jember. Balita yang mendapatkan IMD
memiliki peluang 2,278 kali lebih besar untuk tumbuh normal sesuai usianya atau
tidak mengalami stunting (p = 0,022). Balita yang mendapatkan ASI eksklusif
memiliki peluang 2,554 kali lebih besar untuk tumbuh normal sesuai usianya (p =
0,004). Demikian pula, balita yang mendapatkan ASI lanjutan memiliki peluang
2,514 kali lebih besar untuk tumbuh normal sesuai usianya (p = 0,003).
Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pemberian ASI yang mencakup
IMD, ASI eksklusif, dan ASI lanjutan memiliki hubungan signifikan dengan
kejadian stunting. Praktik menyusui yang optimal berkontribusi pada pemenuhan
gizi, perlindungan imunologis, dan pertumbuhan linier anak. Selain itu,
keberhasilan menyusui sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat
pendidikan ibu, pengalaman menyusui sebelumnya, dan dukungan keluarga. Dalam
teori keperawatan keluarga menurut Friedman (2010), keluarga berperan sebagai
unit pemeliharaan kesehatan yang bertugas mendeteksi masalah, mendukung
pengambilan keputusan, dan membantu perawatan anak secara menyeluruh. Oleh
karena itu, intervensi pencegahan stunting harus melibatkan edukasi yang tidak
hanya menyasar ibu, tetapi juga keluarga inti, termasuk suami dan nenek, serta
dilakukan secara berkelanjutan dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Description
Reupload File Repositori 6 Februari 2026_Rudi H/Ardi
