Pemetaan Potensi Lahan Hortikultura Kelengkeng Dan Alpukat Menggunakan MCDA - AHP di Perkebunan Sentool, Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

Abstract

Kelengkeng dan alpukat termasuk dalam tanaman hortikultura yang mempunyai banyak peminat di pasar. Kedua tanaman tersebut telah tumbuh dengan baik di beberapa daerah di Indonesia, karena letak dan iklim di Indonesia yang sesuai dengan karakteristik tanaman tersebut. Oleh karena itu, banyak peluang pagi petani untuk membudidayakan kedua tanaman tersebut. Perkebunan Sentool di Jember yang awalnya didominasi oleh tanaman karet, kini mengalami penurunan pendapatan akibat harga karet yang menurun. Sebagai alternatif, sebagian lahan akan diganti dengan kelengkeng dan alpukat. Namun, belum diketahui apakah lahan tersebut cocok untuk kedua tanaman tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian melakukan pemetaan guna mengidentifikasi area yang paling sesuai untuk budidaya kelengkeng dan alpukat di perkebunan Sentool. Proses pemetaan yang dilakukan menggunakan integrasi metode MCDA (Multi-Criteria Decision Analysis) dan AHP (Analytical Hierarchy Process). Integrasi tersebut efektif dalam memetakan lahan dengan skala besar. Tujuan lain dari penelitian ini adalah menilai efektivitas integrasi MCDA dan AHP dalam lahan dengan skala kecil, khususnya sebagian dari perkebunan Sentool. MCDA dan AHP digunakan untuk menentukan kriteria dan juga bobot dari tiap kriteria yang digunakan. Penelitian ini menggunakan 12 data sekunder, seperti ketinggian, kemiringan, jarak sungai, curah hujan, tekstur tanah, dll. Penelitian ini menggunakan pendapat ahli botani dalam membandingkan nilai dari tiap kriteria, untuk mendapatkan bobot tiap kriteria. Bobot tiap kriteria tersebut di overlay melalui weighted overlay pada Arcgis dengan data syarat pertumbuhan optimum tiap tanaman untuk menghasilkan peta. Setelah peta dihasilkan, validasi dilakukan dengan wawancara langsung dengan pengelola perkebunan Sentool. Tiga parameter digunakan untuk menilai efektivitas integrasi MCDA dan AHP, seperti consistency ratio (CR), akurasi, dan uji stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan area di perkebunan Sentool cocok untuk kedua tanaman, tetapi nilai kecocokan secara keseluruhan kelengkeng lebih tinggi dari alpukat. Analisa lebih lanjut dilakukan dengan membagi menjadi tiga area berdasarkan kondisi kemiringan lahan. melalui pembagian tersebut, ditunjukkan bahwa lahan yang datar lebih cocok untuk kelengkeng, sedangkan lahan dengan kemiringan agak curam lebih cocok untuk alpukat. Analisis efektivitas menunjukkan bahwa ketiga parameter tersebut dapat dipenuhi, sehingga menunjukkan bahwa integrasi MCDA dan AHP efektif dalam memetakan lahan dengan skala kecil. Nilai CR menunjukkan konsistensi yang baik dalam pengambilan keputusan, sementara akurasi hasil analisis dibandingkan dengan kondisi lapangan menunjukkan bahwa model ini cukup akurat. Uji stabilitas mengindikasikan bahwa hasil model cukup stabil meskipun ada perubahan pada data input.

Description

Reupload Repositori File 13 Februari 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By