Deteksi Biji Kakao Terfermentasi dan Tidak Terfermentasi menggunakan ENose Berbasis Sensor MQ3 Dan MQ136
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Kakao merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomis tinggi yang
berkontribusi pada devisa Indonesia. Namun, rendahnya kualitas biji kakao
Indonesia akibat tidak difermentasi menyebabkan harga jualnya relatif murah.
Fermentasi diperlukan untuk meningkatkan kualitas dengan membentuk prekursor
cita rasa, aroma, dan warna, serta mempermudah pelepasan biji dari pulpa. Biji
terfermentasi dan tidak terfermentasi dapat diidentifikasi melalui uji belah yang
dinilai secara visual oleh pengamat ahli, namun metode ini memiliki kelemahan
berupa subjektivitas dan variasi hasil karena perbedaan preferensi, kondisi fisik,
dan pengalaman pengamat. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut adalah penggunaan teknologi/instrumen electronic nose berbasis sensor
MQ3 dan MQ136 dengan suhu pemanasan yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui suhu pemanasan yang terbaik untuk proses sensing serta untuk
mendeteksi perbedaan karakteristik aroma biji kakao terfermentasi dan tidak
terfermentasi menggunakan electronic nose berbasis sensor MQ3 dan MQ136.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu Analisa profil aroma dan
penentuan suhu terbaik proses sensing serta deteksi aroma biji kakao terfermentasi
dan tidak terfermentasi menggunkan e-nose pada suhu terbaik. Perlakuan pada
penelitian ini adalah biji kakao terfermentasi dan biji kakao tidak terfermentasi,
serta suhu pemanasan biji kakao (40°C, 55°C, 70°C, dan 85°C). Analisis yang
dilakukan pada penelitian ini meliputi pola sinyal digital electronic nose,
karakteristik aroma biji kakao terfermentasi dan tidak terfermentasi, penentuan
suhu terbaik untuk proses sensing, serta deteksi aroma biji kakao terfermentasi dan
tidak terfermentasi menggunakan PCA (Principal Component Analysis).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola deteksi electronic nose terdiri
atas tiga proses yaitu flushing, sensing, dan cleaning. Flushing adalah proses
deteksi ketika kondisi udara tanpa komponen volatil sampel. Sensing adalah proses
deteksi komponen volatil pada sampel. Cleaning adalah proses deteksi ketika
komponen volatil sampel dikeluarkan dari ruang sensor. Komponen volatil biji
kakao terfermentasi dan tidak terfermentasi yang terdeteksi menggunakan sensor
MQ3 dan MQ136 meliputi alkohol, benzena, heksana, H2S, dan NH4. Konsentrasi
gas aroma biji kakao terfermentasi lebih tinggi dibanding biji kakao tidak
terfementasi pada semua jenis gas. Suhu pemanasan terbaik untuk proses sensing
biji kakao terfermentasi dan tidak terfermentasi berdasarkan hasil penelitian adalah
70°C. Hasil analisis PCA (Principal Componen Analysis) menunjukkan bahwa
karakteristik aroma biji kakao terfermentasi dan tidak tefermentasi berbeda serta
dapat dideteksi menggunakan electronic nose berbasis sensor MQ3 dan MQ136.
Description
Reuploud file repositori 12 maret 2026_Firli
